Atlantis Indonesia

Angkatan Bersenjata dan Penduduk Kerajaan Atlantis

Angkatan Bersenjata dan Penduduk Kerajaan Atlantis.

Pada puncak kejayaannya,Atlantis bermegah pada angkatan bersenjatanya yang sangat besar untuk melindungi kerajaannya yang sangat luas.

Menurut Plato, Orang Atlantis mempunyai tidak kurang 79.600 prajurit bersenjata.Termasuk 7.200 Hoplites -prajurit infantri bersenjata berat-dan sama banyaknya pemanah dan pengumban,didukung oleh tambahan 33.600 pengumban serta pelempar lembing.

Mereka didukung oleh 10.000 kereta tempur,yang masing – masing dikendarai oleh seorang pengemudi sekaligus pejuang yang membawa perisai ringan.

Atlantis adalah suatu kekuatan di laut. Personil angkatan lautnya yang berjumlah 14.400 orang marinir, pelaut, pembuat dan tukang reparasi kapal, dan kuli bongkar muat kapal-melayani 1.200 kapal, sejauh itu supremasi kelautan paling kuat di dunia purbakala.

Angka-angka ini menunjukkan bahwa penduduk Atlantis mencapai kira-kira 1.034.800 jiwa pada masa puncak kekuasaan kerajaannya. Angka kasar ini diambil pada asumsi ada lima pekerja (termasuk petani, pelaut, pengrajin, dan pedagang),tiga wanita,tiga anak dan dua orang yang lebih tua untuk setiap pejuang. Akan tetapi, belum termasuk penduduk kerajaan-kerajaan yang menjadi sekutunya, atau jutaan koloni di bawah kekuasaan orang Atlantis.

Kerajaan Atlantis terentang mulai dari tambang tembaga di Michigan sebelah atas Amerika Utara dan pantai Meksiko dan Kolumbia hingga Iberia dan Italia,melintasi Afrika Utara hingga ke perbatasan Mesir, mencakup lebih banyak wilayah dan bangsa daripada imprialisme Romawi, dan tiada taranya hingga bangkitnya Kerajaan Inggris.

Kerajaan Atlantis diperintah oleh sepuluh raja, semuanya keturunan langsung Dewa Laut (Poseidon) pendiri peradaban mereka. Mereka menikmati komando penuh atas kota-kota dan wilayah-wilayah mereka sendiri,namun penggunaan kekuasaan diterapkan secara ketat didalam hukum Poseidon. Hukum Poseidon menuntut masing-masing raja menundukkan dirinya kepada penilaian penguasa-penguasa lain atas keluhan apapun yang diajukan terhadapnya. Hukum Poseidon juga mengekang para raja dari berperang terhadap satu sama lain, dan menuntut aksi bersatu dari semua penguasanya apabila diantaranya diserang pihak lain.

Kepala rumah Atlas berfungsi sebagai Kaisar,yang keputusan-keputusannya mengambil preseden serta final. Hukum Poseidon menutut para wali untuk memerintah dengan hikmah dan penguasaan diri “di negeri dengan iktikad baik umum” (Kritias, 5).

Siapapun yang menyimpang dari hukum pasti dituduh bersumpah palsu dan melanggar sumpah, pelanggaran-pelanggaran utama yang dapat dijatuhi hukuman keras.

Demikianlah sistem pemerintahan Orang Atlantis, walaupun otoriter namun bukanlah totaliter.

Sumber :

Atlantis and Other Lost Worlds: New Evidence of Ancient Secrets

Oleh Frank Joseph

Exit mobile version