Atlantis Indonesia

Perubahan Iklim Membuat Bahan Makanan Lebih …

Perubahan Iklim Membuat Bahan Makanan Lebih Beracun

Cuaca ekstrem dan perubahan iklim akan meningkatkan racun pada bahan makanan.

Jauhari, warga Sungai Putat, Pontianak Utara memanfaatkan lahan gambut sebagai tempat untuk bertani. Bersama istrinya, Jauhari menanam sayuran. Lahan gambut dangkal (dibawah satu meter) berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai lahan pertanian. Gambut dangkal memiliki tingkat kesuburan yang lebih tinggi dibanding lahan gambut dalam. Untuk pemanfaatan lahan gambut sebagai lahan pertanian, diperlukan pengelolaan air yang disesuaikan dengan karakteristik gambut dan jenis tanaman.

Cuaca ekstrem dan perubahan iklim akan meningkatkan racun pada bahan makanan. Hal itu disampaikan oleh Kepala Divisi Peringatan Dini United Nation Environment Programme (UNEP), Jacqueline McGlade.

Dalam wawancara dengan DW.com pada Rabu (1/6/2016), Jacqueline mengatakan bahwa UNEP mengidentifikasi masalah yang disebut “poison chalice”, akumulasi racun pada tanaman hasil panen akibat perubahan iklim.

Alam memaksa tanaman pangan untuk beradaptasi dengan kondisi kekeringan atau banjir. Sayangnya, adaptasi itu berpotensi memicu akumulasi racun pada tanaman pangan tersebut.

Logikanya begini, dalam kondisi normal, tanaman akan memproduksi seluruh rangkaian protein dan berbagai macam nutrisi yang berguna.

“Tapi ketika kita menghadapi kekeringan atau banjir, tanaman akan merespon dengan cara berbeda,” kata Jacqueline.

Akibat dari hal itu, selain turunnya produktivitas, tanaman dapat mengakumulasi zat tertentu yang bersifat racun bagi manusia dan hewan. Salah satu zat yang bisa terakumulasi pada tanaman pangan adalah nitrat.

Dari tanaman pangan, nitrat bisa terakumulasi pada tubuh manusia jika manusia memakannya. Dalam kadar tretentu, nitrat bisa bersifat toksik. Senyawa lain yang berpotensi meracuni manusia adalah hidrogen sianida.

Tanaman pangan yang bisa mengakumulasi senyawa tersebut antara lain singkong, maize, sorghum, rami, jenis-jenis tanaman yang banyak ditanam di negara berkembang.

“Pada ekstrem yang lain, dalam kondisi basah dan banjir, Anda akan melihat pertumbuhan jamur,” kata Jacqueline.

Jamur bisa tumbuh pada biji tanaman. Ketika tanaman tersebut diolah menjadi tepung dan mausia memakannya, racun yang dihasilkan oleh jamur pun bisa termakan.

Menurut Jacqueline, zat racun dari tanaman itu betul-betul bisa merugikan manusia. Riset menunjukkan bahwa aflatoksin atau racun yang dihasilkan jamur dan hidropgen sianida bisa memicu beragam akibat mulai sulit bernafas hingga yang paling parah kematian.

Zat racun lain dari tanaman bisa menghambat pertumbuhan janin, memperlambat pertumbuhan bayi, memicu kurangnya kekebalan tubuh, dan keguguran.

Selain itu, banyak juga zat-zat racun yang memicu kanker.

Akumulasi zat racun pada tanaman akibat perubahan iklim, menurut Jacqueline, sudah terjadi di Afrika dan Amerika Latin. Hal yang sama bisa terjadi di banyak wilayah di dunia. Orang miskin dinilai sebagai kalangan yang paling dirugikan.

Aksi untuk mengurangi laju perubahan iklim diperlukan. Jika suhu Bumi meningkat hingga 3 derajat celsius, dampaknya akan luar biasa.

“70 persen dari produksi pertanian akan terdampak oleh terlalu banyak hujan atau kekeringan. Jadi kita harus sadar, ini berpotensi membuat miliaran orang terpapar racun,” tegas Jacqueline.

Sumber :

http://nationalgeographic.co.id/berita/2016/06/perubahan-iklim-membuat-bahan-makanan-lebih-beracun

Exit mobile version