Anunnaki – Mitologi Sumeria

Anunnaki – Mitologi Sumeria.

Anunnaki dikenal manusia terdiri dari para Dewa yang utama yang ada pada peradaban Mesopotamia (Sumeria, Akkadia, Babylon, Assyria). Nama Anunnaki sendiri diartikan sebagai ‘darah bangsawan’, ‘keturunan pangeran’, atau ‘para manusia yang datang dari surga dan turun ke Bumi’. Menurut The Oxford Companion to World Mythology, Anunnaki dikenal sebagai Dewa – Dewa bangsa Sumeria, mewakili kesuburan, Dewa bawah tanah dimana mereka menjadi hakim.

Nama mereka diambil dari Dewa Langit bernama ‘Anu’. Dikatakan bahwa mereka juga disebut sebagai kelompok Dewa yang berkaitan dengan sebutan Igigi, tetapi tidak jelas digambarkan dalam sejarah tentang kondisi ini.

Berdasarkan mitologi tentang banjir besar Atra – Hasis dikatakan bahwa Igigi adalah generasi keenam dari para Dewa yang dipaksa bekerja untuk Anunnaki, lalu ini berakhir dalam pemberontakan selama 40 hari, semua ini pekerjaan para Dewa ini digantikan dengan manusia.

Disebutkan bahwa manusia diciptakan Anunnaki untuk melakukan penambangan emas yang dibutuhkan Anunnaki untuk memperbaiki atmosphere planet mereka yang rusak karena perang antar ras.

Enuma Elish yang juga dikenal dengan istilah The Seven Tablets of Creation adalah mitologi tentang penciptaan dalam kepercayaan Sumeria, dalam mitologi ini diceritakan bahwa pada proses penciptaan ini ada 600 Igigi dari langit.

Sedangkan dalam mitologi Babylonia, Enuma Elish (versi terakhir Enuma Elish yang berkaitan dengan Marduk), dikatakan bahwa Marduk memutuskan untuk membagi dua para Anunnaki, penempatan mereka adalah untuk di Bumi dan langit.

Dalam legenda tentang Gilgamesh, Anunnaki juga disebutkan ketika Utnaphistim menceritakan tentang kejadian banjir besar, fenomena ini mirip dengan cerita tentang Noah. Tujuh hakim bawah tanah yang disebut Anunnaki kemudian melakukan persiapan untuk membuat kobaran api besar di bumi, karena badai besar sebentar lagi tiba.

Berdasarkan mitologi Babylonia dan Assyria, Anunnaki adalah anak – anak dari Anu dan Ki, saudara – saudara dari para Dewa yang merupakan anak dari Anshar dan Kishar (Dewa Langit dan Dewa Bumi).

Sedangkan dalam buku Zecharia Sitchin, “The Cosmic Code”, dikatakan bahwa ada suatu masa dimana Bumi saat itu belum ada manusia, hewan – hewan masih liar dan tidak ada yang menjadi hewan peliharaan, tanaman belum ada yang membudidayakan.

Pada masa ini kemudian datanglah ke bumi sebuah group terdiri dari 50 Anunnaki. Dipimpin oleh seorang bernama E.A (artinya ; yang rumahnya adalah air), mereka melakukan perjalanan dari planet mereka, bernama Nibiru, mereka mencapai bumi, mendarat di Teluk Persia. Ini terjadi 450.000 tahun lalu.

Cerita tentang Anunnaki ini mungkin salah satu cerita paling tua di Bumi, atau memang merupakan yang tertua, ini berhubungan dengan terlahirnya pada Dewa di Bumi, dan juga ras manusia bumi. Ea kemudian menciptakan manusia pertama bumi bernama Lullu, untuk membantu pekerjaan abadi para Dewa dalam menjalankan perintah dan menjaga teluk.

Cerita ini dijelaskan dalam bentuk puisi dalam mitologi Sumeria, “Ea menciptakan manusia pertama bumi untuk mengabdi kepada para Dewa, dan membebaskan para Dewa dari tugas – tugasnya, kemudian Marduk mempersiapkan organisasi untuk mengelola akhirat, menunjuk para Dewa yang akan bertugas pada posisinya masing – masing di akhirat.

Kemudian puisi ini ditutup dengan doa panjang Marduk dalam menyelesaikan ciptaan ini.”
Dikatakan bahwa satu alasan Anunnaki datang ke Bumi adalah karena emas.

Pembangunan tambang – tambang emas itu kemudian dilakukan mereka, kemudian terjadi pemberontakan dari para Dewa yang menyebabkan mereka harus melakukan penciptaan manusia sebagai ras budak yang akan bekerja kepada mereka menggantikan para Anunnaki dalam pekerjaan mereka mencari emas di tambang – tambang yang mereka bangun di bumi.

Planet mereka Nibiru bergerak sangat jauh dari orbit, dan ini menyebabkan mereka terus berada dalam kegelapan dan penderitaan, maka saat planet mereka mulai mendekati matahari lagi, mereka sangat senang untuk mendekati bumi, dan membangun kehidupan diatas bumi. Bumi adalah planet yang hangat, sifat feminisme dari Mother Earth sanat menarik bagi mereka.

Berdasarkan mitologi Sumeria, Anunnaki dan Bumi adalah dua sifat maskulin dan feminim yang selalu bertemu, hubungan ini adalah hubungan sexual antar energi – energi maskulin dan feminim yang menciptakan manusia – manusia hybrida yang terlahir dari bumi.

Cerita – cerita ini banyak didapatkan dalam mitologi – mitologi bangsa Sumeria. Pada saat Anunnaki datang ke bumi, mereka mengganggu ritme alami dari bumi, mengganggu alam yang berada di bumi.

Mereka adalah bangsa yang memiliki teknologi sangat maju, dan mereka telah melakukan rekayasa genetika terhadap manusia pada masa yang sangat jauh dalam sejarah manusia.

Mereka adalah bangsa yang mempekerjakan manusia sebagai budak yang mempermudah semua pekerjaan mereka di bumi.
Dalam buku lain yang ditulis oleh Laurence Gardner, berjudul “Genesis of The Grail Kings” dikatakan bahwa peran Anunnaki bagi manusia adalah seperti peranan sebagai orang tua dan guru bagi umat manusia.

Bagi bangsa Sumeria, tujuan hidup mereka adalah untuk memberikan pelayanan terhadap Anunnaki, memberikan mereka makanan, minuman, dan lingkungan hidup yang menyenangkan untuk mereka. Sebagai timbal baliknya bagi Sumeria, mereka dididik tentang pelajaran kehidupan, pengetahuan alam semesta, ajaran – ajaran tentang alam semesta, kehidupan sosial dan ilmu pengetahuan lain yang mereka kuasai.

Hal ini dapat dibuktikan dengan bagaimana peradaban Sumeria, mereka adalah bangsa yang sangat maju, budaya tulisan mereka adalah salah satu tulisan tua yang termasuk salah satu budaya tulisan tertinggi di bumi.

Planet Nibiru, tempat asal Anunnaki, yang oleh bangsa Sumeria disebut sebagai Planet X adalah sebuah planet yang misterius, tidak diketahui mengapa ia berada pada solar system kita.

Dikatakan bahwa planet Nibiru adalah planet ke 12 dalam solar system dimana bumi berada. Istilah Nibiru sendiri sering dijuluki sebagai “planet yang melintas”, mereka mengorbit kepada matahari dengan lintasan yang lebih elipse daripada lintasan planet lain yang umumnya berada pada lintasan orbit horisontal.

Planet ini akan berada diantara Mars dan Jupiter tiap 3.600 tahun (1 Shar = 3.600 tahun/ lingkaran penuh) sekali, dan ketika itu terjadi, mengakibatkan banyak kehancuran pada seluruh planet pada solar system ini, karena ia ia melintas dengan sangat cepat dan menghasilkan energi rotasi yang sangat besar.

Dikatakan bahwa jauh di masa lalu, ada sebuah planet diantara Mars dan Jupiter, bernama Maldek, yang kemudian hancur berkeping – keping saat Nibiru melintasi jalur itu.

Planet ini terbelah menjadi dua, setengahnya adalah yang saat ini kita kenal sebagai asteroid belt bernama Ceres diantara Mars dan Jupiter. Kemudian pecahan nya yang setengah lagi adalah menjadi planet bumi dan bulan dari Mars.

Dikatakan bahwa Nibiru selalu melintas bersama bulan mereka yang selalu dalam keadaan terbakar seperti matahari, Indian Maya pernah meramalkan bahwa kedatangan Nibiru akan terjadi pada awal abad ke 21, ini yang dikenal dengan ramalan hari kiamat, diramalkan pada 2012 lalu, ini juga sama persis dengan ramalan dari Nostradamus, semua merujuk pada 2012.

Sekarang sudah 2016, artinya kita berpikir bumi telah aman dan ramalan itu tidak terbukti? NASA telah merilis berita bahwa mereka menemukan keberadaan ‘Brown Dwarf’ baru – baru ini, berdasarkan teori konspirasi yang dirilis ‘Disclose TV’, dikatakan NASA telah menutupi ini dari dunia selama puluhan tahun.

Tidak ada yang tahu soal ini, walaupun perubahan iklim yang lebih ekstrim tahun – tahun belakangan ini, bencana – bencana yang terjadi, diindikasikan oleh banyak peneliti adalah berhubungan dengan mendekatnya Nibiru, ini mempengaruhi semua iklim yang terjadi pada planet – planet yang ada di solar system ini.
Banyak teori tentang mendekatnya Nibiru, dan banyak orang mengaitkan ini kepada kiamat, kedatangan kembali para Anunnaki. Tiap kali kedatangan Nibiru ke tata surya ini, mereka menciptakan kehancuran besar, tetapi setelah itu kemudian terjadilah kehidupan baru. Hal ini juga diceritakan dalam Baghavad Gita.

Via- David Devanta

Comments

comments

Close