Karaéng Pattingalloang. …

Karaéng Pattingalloang.

Dalam Lontara Pa’pasanna Gowa, terdapat beberapa pesan Karaéng Pattingalloang yang walaupun usianya sudah mencapai ratusan tahun tetapi masih cocok diterapkan atau juga masih berlaku hingga saat ini.

Diantaranya adalah pesan Karaéng Pattingalloang mengenai “lima sebab hancurnya sebuah negeri ” yang terkenal itu, atau dalam bahasa Makassar “Lima Pammangjenganna Matena Butta Lompoa”, juga pesan-pesan Karaeng Pattingalloang lainnya seperti halnya pesan mengenai Katojengang :

“Nikanaya Katojengang Sangrapangi Bulo Sipappa, Nionjoki Poko’na Ammumbai Cappa’na, Nionjoki Cappa’na Gioki Poko’na”.

(Suatu kebenaran ibarat satu batang bambu, bila diinjak pangkalnya muncul pucuknya, demikian halnya bila di injak pucuknya akan muncul pangkalnya).

Makna dari pesan tersebut adalah bahwa kebenaran itu tidaklah bisa dikalahkan oleh kebatilan. Yang benar memang bisa menjadi salah dan yang salah bisa menjadi benar, tapi bagaimanapun pintarnya seseorang untuk melenyapkan (menutupi) suatu kebenaran suatu saat kebenaran tersebut akan muncul baik itu di tempat lain ataupun diwaktu lain. Meski ternoda oleh jalan-jalan kekejian tatkala kejahatan berkuasa.

Pesan Karaéng Pattingalloang tentang “Katojengan” ini juga secara tidak langsung mengingatkan kepada kita bahwa kebenaran itu haruslah ditegakkan kapan dan dimana saja.

Riwayat Singkat Karaéng.

Pattingalloang Karaéng Pattingalloang adalah seorang maha sarjana tanpa gelar dan titel Doktor namun diakui dan dipuji dimana-mana kecendekiawannya. Dia adalah I Mangadacinna Daeng Sitaba Sultan Mahmud, salah seorang putera dari Raja Tallo IV I Mallingkaang Daeng Nyonri Karaeng Matoaya diantara 29 orang bersaudara.

Karaéng Pattingalloang diangkat sebagai Mangkubumi Kerajaan Gowa (1639-1654) mendampingi Sultan Malikussaid, yang memerintah tahun 1639-1653. Menggantikan ayahandanya Karaéng Matoaya. Pada saat ia menjabat sebagai Mangkubumi, Gowa telah menjadi sebuah kerajaan terkenal yang mengundang perhatian negeri-negeri lainnya.

Ia adalah perdana menteri dan penasihat utama Sultan Muhammad Said (1639-1653), yang masa pemerintahannya kurang lebih bertepatan dengan masa keemasan kesultanan itu. Dia sendiri adalah salah seorang diantara pedagang terbesar negeri itu, yang tentu saja berniaga dengan Maluku (rempah-rempah Maluku waktu itu dikumpulkan di Makasar sebelum dijual ke tempat-tempat lain), dengan Orang Portugis (yang setelah diusir dari Malaka oleh Orang Belanda pada tahun 1641, menyelamatkan diri ke Sulawesi), dengan Orang Belanda dari Batavia, tetapi juga berhubungan langsung dengan Manila, Siam dan Golkonda.

Tercatat bahwa kota/ bandar Makassar sebagai pusat ibu kota saat itu, telah berkembang menjadi bandar niaga yang amat ramai di kunjungi, baik oleh pedagang-pedagang kerajaan lain di Nusantara maupun oleh bangsa-bangsa asing.

Dan malahan dianggap Malaka kedua sesudah Portugis menduduki Malaka (1511). Begitu pesatnya kemajuan yang dicapai Gowa, sehingga sekitar tahun 1615 penduduknya mencapai jumlah 100.000 jiwa, yang diantaranya terdapat ribuan orang-orang melayu, Arab, dan bangsa Eropa seperti Inggris, Portugis, Denmark, dan Belanda.

Salah satu keistimewaan dari kepandaian Karaéng Pattingalloang yang mengagumkan, ialah kemampuannya menguasai dan berkomunikasi dalam beberapa bahasa Asing antara lain bahasa Portugis, Spanyol, Latin, Inggris, Perancis, Belanda dan Arab.

Priagung itu telah belajar Bahasa Latin,Spanyol dan Portugis serta memiliki sebuah perpustakaan yang luar biasa, denga koleksi berbagai buku dan Atlas Eropa.

Semua pendatang Eropa serempak memujinya, termasuk orang Belanda yang selalu bermusuhan dengan orang-orang Makassar. Alexander de Rhodes Sj, seorang misionaris Katholik di Makassar pada tahun 1646 menulis tentang Karaeng Pattingalloang, antara lain sebagai berikut :

“Karaeng Pattingalloang adalah orang yang menguasai semua rahasia ilmu barat, sejarah kerajaan-kerajaan Eropa dipelajarinya, tiap hari dan tiap malam ia membaca buku-buku ilmu pengetahuan Barat dengan keingintahuan yang besar. Mendengarkan ia berbahasa Portugis tanpa melihat orangnya, maka orang akan menyangka, bahwa orang yang bercerita itu adalah orang Portugis totok dari Lisabon”.

Diantara koleksinya terdapat karya Bruder Luis de Granada OP, yang telah dibacanya dalam bahasa aslinya.

Seperti ayahandanya yang amat gemar mempelajari ilmu pengetahuan, Karaéng Pattingalloang pun mewarisi semangat kecendekiawanan. Ia juga sekaligus merupakan sosok seorang ilmuwan. Menurut catatan Fride Rhodes, ia menghayati Tehnical Inovation Europe, dan ia merupakan orang Asia Tengggara pertama yang menyadari pentingnya matematika guna ilmu-ilmu terapan (Aplied Science).

Namun yang paling mengaggumkan dari Karaéng Pattingalloang adalah cintanya pada ilmu-ilmu eksata :

“Ia selalu membawa buku-buku barat dan khususnya buku-buku mengenai Matematika, yang mana ia sangat ahli dan begitu besar cintanya pada setiap bagian ilmu ini, sehingga mengerjakannya siang malam…” kata
Alexander de Rhodes Sj.

Bukan hanya buku-buku yang gemar dikumpulkannya, tetapi juga pelbagai macam benda-benda yang penting untuk ilmu pengetahuan seperti globe (bola dunia), peta dunia dengan deskripsi dalam bahasa Spanyol, Portugis dan bahasa Latin, buku ilmu bumi, atlas. Karaéng Pattingalloang juga menyukai hadiah orang-orang asing mulai yang berupa kuda, antelope, gajah sampai senjata api, dan sebagainya.

Tentang keinginan-tahuannya yang ensiklopedis itu, kita mendapat keterangan tidak langsung berkat pesanan-pesanan rariteiten (benda-benda langka) yang atas permintaannya disampaikan oleh Sultan sendiri kepada Pemerintah di Batavia, dan tercatat dalam Daghregister.

Dalam surat yang diserahkan pada tanggal 3 Agustus 1641,Sultan minta dikirimi “lonceng yang bunyinya bagus, beratnya empat sampai lima pikul” dan agar ia diberitahu harganya.

Dalam surat lain yang diserahkan pada tanggal 4 Juni 1648, Karaéng memberitahu Gubernur Jenderal,
” bahwa ia mengharapkan menerima sepasang unta jantan dan betina”, dan menambahkan bahwa ia bersedia membayar biayanya.

Namun, pesanan terpanjang dan paling menarik adalah yang dibawa ke Batavia pada tanggal 22 Juli 1644 oleh Kapten Kapal Oudewater, yang singgah di Makassar dalam perjalanan kembali dari Ambon. Pattingalloang mengirimkan sebelas bahar ( satuan ukuran panjang dari ujung kaki ke ujung tangan yang lurus ke atas) kayu cendana, seharga 60 real tiap bahar sebagai uang muka dan meminta :

“Yang pertama, dua bola dunia yang kelilingnya 157 inchi (3,9 m) hingga 160 inchi (4 m) , terbuat dari kayu atau tembaga, untuk dapat menentukan letak kutub utara dan kutub selatan,

yang kedua sebuah peta dunia yang besar, dengan keterangan bahasa Spanyol, Portugis atau latin,

yang ketiga, sebuah atlas yang melukiskan seluruh dunia dengan peta-peta yang ketetangannya ditulis dalam bahasa Latin,Spanyol atau Portugis,

yang keempat, dua buah teropong berkualitas terbaik, yang bagus buatannya, dengan tabung logam yang ringan, serta sebuah suryakanta yang besar dan bagus,

yang kelima, dua belas prisma segitiga yang memungkinkan untuk mendekomposisi cahaya,

yang keenam, tiga sampai empat puluh buah tongkat baja kecil,

yang ketujuh, sebuah bola dari tembaga atau daru baja.”

Pesanan itu dikirim ke Negeri Belanda, dengan kapal yang berangkat pada Bulan Desember 1644, namun setelah tiga tahun ditunggu barulah barang-barang pertama diterima. Pada tanggal 15 Februari 1648, “benda-benda” langka yang pertama akhirnya dapat dikirim ke Makassar.

Sementara itu, bola dunia yang telah dikerjakan sendiri oleh Joan Blaeu, baru tiba di Makassar pada tanggal 15 November 1650 dan diteruskan pengirimannya pada tanggal 13 November tahun betikutnya.

Menurut J. Keuning, yang berhasil menelusuri rincian penanggalan itu, bola dunia yang dipesan adalah yang terbesar yang pernah dibuat di bengkel tempat kerja kartograf yang masyur itu.

Matematika, geografi, astronomi, optik — dari situ tampak bahwa Karaéng Pattingalloang meminati “ilmu-ilmu yang sedang marak” pada zamannya. Orang-orang sezamannya, baik di Batavia maupun di Negeri Belanda, benar-benar terkesan oleh pesanan yang luar biasa itu.

Penyair besar Vondel bahkan menyusun sajak pujian bagi priagung dari Timur itu :

Dien Aardkloot zend ‘t Oostindische huis
Den grooten Pantaguole t’huis,
Wiens aldoorsnuffelende brein,
Een gansche wereld valt te klien.
Men wensche dat zijn scepter wass’,
Bereyke d’eene en d’andere as,
En eer het slyten van de tyd
Dit koper dan ons vriendschap slyt.

” Bola dunia itu, Perusahaan Hindia Timur
Mengirimkannya ke rumah Pattingalloang agung
Yang otaknya menyelidik kemana-mana
Menganggap dunia seutuhnya terlalu kecil.
Kami berharap tongkat kekuasaannya memanjang
Dan mencapai kutub yang satu dan yang lain
Agar keuzuran waktu hanya melapukkan
Tembaga itu, bukan persahabatan kita.”

Pada tahun 1652 sebuah perahu Inggris menyerahkan teleskop “Galilean Prospechtive Glass” ciptaan Galilea kepada Raja Gowa Sultan Malikussaid, yang dipesan dan dibeli oleh Raja Sultan Alauddin sebelumnya, tahun 1653. Demikian Karaéng Pattingalloang telah tampil sebagai seorang cendekiawan dan negarawan Kerajaan Gowa di masa lalu, ketika Gowa mencapai puncak kejayaannya.

Diriwayatkan, Karaéng Pattingalloang kemudian wafat sebagai pejuang Kerajaan Gowa pada tanggal 15 September 1654, ketika ikut dalam barisan Sultan Hasanuddin melawan Belanda, ketika itu armada Kerajaan Gowa kembali dari Buton membebaskan daerah itu dari penguasaan Belanda. Sejak wafatnya, ia kemudian mendapat sebutan “Tumenanga ri Bontobiraeng”. Putranya yang kemudian menggantikannya sebagai Mangkubumi ialah Karaeng Karunrung.

Sumber :

http://m.kompasiana.com/adilagaruda/katojengang-karaeng-pattingalloang_55001e4da333114f7550f953

Nusa Jawa : Silang Budaya 1
“Batas-batas Pembaratan Bab III Kerumitan Warisan Konseptual Hal. 129 -130.

Comments

comments

Close