Atlantis Indonesia

Great Catalysm – Great Spirit. …

Great Catalysm – Great Spirit.

“Nenek moyang kami dan seluruh manusia di Bumi adalah orang – orang yang selamat dari banjir besar yang terjadi berkali – kali di Bumi, menyapu bersih semua isi Bumi, dan Bumi menjadi kosong seperti saat penciptaan” – Suku Navojo, Indian
Manusia mengenal bencana besar yang terjadi pada Bumi adalah dengan kisah Nuh, kisah ini berasal dari periode yang sangat kuno di Bumi, jaman Mesopotamia, kisah – kisah mitologi yang tersisa di Bumi pada masa jauh dalam sejarah memang masih banyak ditemukan di wilayah hidup bangsa Sumeria, peradaban yang berkaitan erat dengan kisah tentang Annunaki.

Sebagian besar manusia hanya mengenal satu banjir besar yang pernah terjadi di Bumi karena catatan itu masih ada dalam peninggalan Sumeria, tetapi Plato (Yunani Kuno) dan suku Navajo (Indian Amerika Utara) menyatakan bahwa banjir yang terjadi pada Bumi sudah berkali – kali, dan semua manusia yang ada pada saat ini adalah keturunan dari orang – orang yang selamat pada bencana besar itu. Kisah yang diceritakan Sumeria, banjir besar melanda dunia berasal dari sungai Tigris dan Euphrates, dan peristiwa ini menyapu bersih seluruh kehidupan yang ada di Bumi, manusia, tanaman, hewan, semua musnah dalam bencana besar ini, tetapi semua peradaban di Bumi memiliki ingatan tentang banjir besar, kisah ini ada dalam banyak mitologi di daerah berbeda.

Dalam mitologi Navajo, banjir besar adalah peristiwa pembaptisan Bumi dan seluruh makhluk hidup di Bumi, berdasarkan mitologi mereka banjir terjadi karena proses alami, air keluar dari sungai – sungai dalam jumlah besar dan dalam sekejap menyapu bersih semua kehidupan di daratan – daratan seluruh Bumi, dan periode ini merupakan siklus yang rutin terjadi pada Bumi, bisa dihitung pola terjadinya. Dalam catatan sejarah, Indian Amerika memiliki nenek moyang dari Asia, tepatnya suku Altai (saat ini bagian dari wilayah Russia), satu rumpun dengan suku – suku yang ada di Mongol, Siberia, Tibet, dan menyebar di sepanjang benua Asia, sebagian dari mereka bermigrasi ke benua Amerika sekitar 14 ribu tahun lalu, menjadi suku – suku baru yang kita kenal sebagai bagian dari suku besar Indian, di sepanjang benua Amerika mereka ditemukan dalam berbagai suku yang berbeda.

Menurut persepsi suku Navajo, banjir selalu terjadi, manusia berevolusi tiap waktu, dan pada periode dimana evolusi itu telah menuju arah yang tidak seharusnya, maka mereka ‘dibersihkan’ dari Bumi, untuk kemudian terlahir kembali sebagai makhluk hidup di Bumi dalam kondisi murni, bersih dan suci seperti pada awal proses penciptaan. Maka Navajo mengenal banjir besar sebagai peristiwa pembaptisan Bumi dan semua makhluk yang berada di Bumi.

Dalam mitologi Sumeria dikisahkan bahwa para Dewa menciptakan ras manusia untuk menjalankan tugas – tugas di Bumi, tetapi pada perkembangan ras ini, manusia berkembang menjadi terlalu banyak dan menciptakan terlalu banyak keributan di Bumi. Maka Dewa Enlil memutuskan untuk menyapu bersih manusia dengan menciptakan banjir besar. Dewa Enki kemudian berusaha mencegah ini, ia berusah amemberi tahu kepada raja Ziusudra, tetapi Enlil melarang Enki untuk memberitahu. Enki kemudian tetap bersikukuh untuk memberikan tanda melalui alang – alang di sekitar istana Ziusudra, sang raja pun mengerti pesan yang disampaikan alang – alang kepadanya, lalu ia mempersiapkan kapal besar untuk menyelamatkan diri, keluarganya, hewan – hewan dan tumbuhan.

Enki menginginkan manusia tetap ada di Bumi. Mitologi ini kemudian dikembangkan oleh Babylonia dengan legenda yang dikenal sebagai Gigamesh, seorang bernama Utnapishtim mendapat mimpi tentang seorang Dewa membisikkannya tentang bencana banjir yang akan terjadi di Babylonia, dan ia diperintahkan untuk membuat kapal besar untuk menyelamatkan manusia, hewan , dan tumbuhan.

Mitologi ini kemudian berlanjut ke peradaban selanjutnya, Hebrew, dan mitologi Hebrew adalah yang kita kenal sebagai kisah Nuh.
Dalam mitologi Mesir Kuno, peristiwa banjir besar berawal karena ketakutan Ra yang merasa manusia di Bumi sudah terlalu banyak dan mereka akan memberontak kepadanya, maka kemudian ia mengirimkan Dewi Hathor untuk memusnahkan manusia. Hathor melaksanakan tugasnya, tetapi ia membunuh terlalu banyak manusia, darah mereka mengalir terlalu banyak ke sungai Nil dan lautan, terjadilah banjir besar itu. Kemudian Hathor dengan serakah meminum darah manusia – manusia ini.

Ra kemudian mempertimbangkan bahwa apa yang dilakukan Dewi Hathor sudah berlebihan, maka ia kemudian menyuruh para budak untuk membuat bir berwarna merah seperti darah dan dialirkan ke sungai Nil. Bir menyerupai darah ini kemudian diminum oleh Hathor, sehingga ia mabuk dan tidak bisa membunuh seluruh manusia yang tersisa. Maka sisa – sisa manusia yang ada tersebut adalah manusia yang berkembang saat ini.

Berdasarkan mitologi Yunani Kuno, banjir besar adalah hukuman bagi manusia yang berkembang dengan salah arah, menuju keserakahan dan saling menghancurkan. Maka Zeus kemudian menciptakan banjir besar untuk menyapu bersih manusia, tetapi sebelum banjir Dewa Prometheus membocorkan ini kepada anaknya, Deucalion agar ia dan istrinya dapat menyelamatkan diri dari banjir besar. Saat banjir suru, hanya Deucalion dan istrinya yang selamat, maka di Bumi tinggal tersisa dua manusia, Deucalion dan istrinya, ini adalah nenek moyang manusia. Catatan tentang kisah ini masih ditemukan di kumpulan puisi Romawi, disebut Ovid.

Di China, banjir besar diceritakan dalam kisah tentang Yu. Banjir selalu terjadi berasal dari sungai Yang Tze dan Huang He (sungai kuning), Yu adalah orang yang berhasil membuat dam untuk menghadapi banjir besar, Yu dibantu oleh seekor naga yang memberitahunya bahwa Yu harus membuat lubang besar ke kedalaman Bumi. Yu berhasil mengatasi banjir atas bantuan naga, maka kemudian ia dinobatkan sebagai kaisar China.

Di India, kisah ini dikenal dengan mitologi tentang Dewa Manu. Suatu kali Manu sedang membersihkan diri dengan mengambil air dari guci, didalam guci tersebut ada seekor ikan yang minta diselamatkan oleh Manu, dan ikan ini berjanji untuk menyelamatkan Manu di masa depan. Manu kemudian memelihara ikan ini, sampai kemudian ikan ini berkembang menjadi ikan yang sangat besar, kemudian Manu melepaskan ikan ini ke lautan. Sesaat sebelum ikan ini pergi, ia memberitahu Manu agar segera membuat kapal besar untuk menyelamatkan diri dari banjir yang akan terjadi beberapa tahun kemudian, banjir ini akan memusnahkan manusia dan semua makhluk, maka ia harus menyelamatkan sebanyak mungkin makhluk hidup.

Manu mempercayai ikan ini dan kemudian membuat kapal besar sebagai penyelamat. Ikan besar tersebut dipercaya adalah sebagai salah satu bentuk perwujudan Dewa Wisnu. Peristiwa banjir besar diinterpretasikan dalam kepercayaan kuno India sebagai peristiwa pembaptisan terhadap dosa manusia dan semua makhluk di Bumi, budaya pembaptisan di sungai Gangga adalah peninggalan dari kisah tentang banjir besar, dan budaya pembaptisan berlangsung ribuan tahun setelah itu.
Mitologi peradaban – peradaban kuno Indian umumnya menceritakan kisah banjir dengan lebih lengkap, tetapi kisah mereka tidak pernah disampaikan melalui tulisan sehingga tidak ada bukti tertulis tentang kisah sejarah Bumi.

Bangsa Indian mendapatkan cerita turun temurun dari ritual keagamaan mereka, diaman mereka mendengarkan langsung nenek moyang mereka bercerita tentang banjir – banjir besar yang pernah terjadi. Suku – suku besar Indian seperti Inca, Maya, Apache, Navajo, Hopi, memiliki kisah – kisah senada tentang banjir – banjir yang pernah terjadi. Menurut mereka banjir bukan satu – satunya bencana yang terjadi dan memusnahkan mereka, tetapi yang disebut sebagai ‘Great Catalysm’ selalu terjadi dengan melibatkan 4 unsur utama alam semesta, air, api, tanah, angin, mereka percaya peristiwa – peristiwa banjir terjadi secara supranatural, ada penggerak dari keempat unsur utama alam semesta di Bumi tersebut, maka ini yang mereka kenal dengan istilah ‘Great Spirit’.

Great Spirit adalah sekumpulan entitas energi yang sangat besar yang menggerakkan semua elemen dasar alam semesta, Great Spirit adalah pengontrol kehidupan semua makhluk di Bumi. Pada saat bencana besar terjadi di Bumi, menurut Indian tidak hanya banjir yang memusnahkan manusia tetapi bersamaan dengan itu tiap daerah mengalami bencana berbeda, gempa bumi (elemen tanah), kebakaran (elemen api), badai, topan (elemen angin), dan banjir (elemen air), Great Spirit menggerakkan elemen – elemen ini untuk membentuk bencana yang menyapu bersih semua makhluk dari Bumi, dan Bumi kembali kepada kondisi seperti awal penciptaan.

Beberapa peninggalan dalam bentuk prasasti yang menggambarkan peristiwa bencana seperti yang diungkapkan dalam mitologi Indian masih terdapat di kuil – kuil Tibet sampai saat ini, Dalai Lama melestarikan prasasti – prasasti yang bercerita tentang peradaban Aramu Muru dalam banyak prasasti di kuil – kuil mereka, digambarkan bahwa angin topan, banjir, munculnya api dari dalam tanah, dan Bumi bergetar terjadi pada bencana – bencana ini.

Dalam tiap bencana selalu akan ada manusia yang tersisa dalam jumlah kecil, dan mereka yang tersisa adalah orang – orang yang memiliki hubungan erat dengan Great Spirit melalui kesadaran pikiran. Bencana besar di Bumi selalu terjadi untuk membersihkan kesalahan – kesalahan semua makhluk dalam evolusi di Bumi.

Bencana besar yang terjadi berkali – kali di Bumi menurut kepercayaan beberapa peradaban (Indian, India , Sumeria, Babylonia, Hebrew) adalah peristiwa pembaptisan terhadap Bumi dan seluruh makhluk yang ada di Bumi, peristiwa penyucian semua jiwa makhluk hidup, agar mereka terlahir kembali ke Bumi menjadi jiwa – jiwa yang murni dan dapat berfungsi menjalankan tugas masing – masing dalam bentuk manifestasi yang berbeda – beda.

Mereka semua adalah bagian yang sama pentingnya bagi alam semesta. Budaya pembaptisan dalam beberapa ajaran spiritual adalah peninggalan dari filosofi – filosofi seperti yang diungkapkan suku – suku Indian, seperti yang terjadi dalam pembaptisan di Kristen dan Hindu, peradaban India dan Hebrew menggunakan filosofi ini.

Seorang yang dibaptis di sungai Gangga, India adalah dengan tujuan untuk memurnikan jiwanya, maka ia seakan terlahir kembali menjadi manusia baru, dalam keadaan yang suci seperti saat awal ia diciptakan, begitu juga pembaptisan yang terjadi dalam Kristen, pembaptisan adalah pemurnian jiwa, menjadi pribadi yang baru dalam kehidupan.

Via-David Devanta.

Exit mobile version