Keseimbangan Chakra & Perilaku Sosial …

Keseimbangan Chakra & Perilaku Sosial

Dalam teori pengobatan tradisional, chakra adalah salah satu parameter yang menjadi acuan untuk menemukan akar dari masalah kesehatan. Dalam teori pengobatan yang berkembang di Asia pada umumnya sejak masa lalu, chakra merupakan titik – titik pusat energi yang merupakan penghubung tubuh fisik dengan energi cosmic alam semesta, ada 7 titik utama (Muladhara, Swadhistana, Manipura, Anahata, Vishuddha, Ajna, Sahasrara), yang semuanya terhubung dengan organ – organ berbeda dalam tubuh fisik. Pada prinsipnya, semua organ tubuh berfungsi dan beroperasi berdasarkan adanya energi hidup (chi / prana) yang masuk melalui titik – titik pusat yang disebut chakra tubuh, jika ada aliran yang tidak lancar pada salah satu titik atau lebih maka organ – organ tubuh yang terkait dengan titik itu akan mengalami gangguan karena ia tidak mendapatkan energi cukup untuk beroperasi, dan gangguan pada satu organ bisa menyebabkan gangguan lebih buruk bagi organ – organ lain dalam tubuh karena semua saling terkait satu sama lain, tidak ada yang berdiri sendiri. Ini adalah teori dasar dalam teknik pengobatan tradisional Asia, maka dikatakan bahwa keseimbangan chakra sangat mempengaruhi kesehatan seseorang. Fungsi chakra dan kinerjanya juga mempengaruhi perilaku sosial dari tiap orang. Dalam kehidupan sehari – hari kita bertemu banyak orang dengan kepribadian berbeda – beda, ada yang menyenangkan, ada yang tidak menyenangkan, semua bukan hanya pengaruh karakter tiap orang tetapi juga ada pengaruh sangat besar dari keseimbangan energi mereka yang dapat dilihat dari masing – masing chakra.

Muladhara
Jika Muladhara berfungsi optimal, maka seseorang akan mengalami kesehatan fisik yang maksimal, chakra ini berkaitan erat dengan kemampuan melakukan aktifitas fisik, vitalitas, dan semua kemampuan yang berkaitan dengan bertahan hidup. Muladhara yang optimal memungkinkan seseorang menjalankan aktifitas normal dengan tanpa kehabisan energi fisik. Jika aliran energi pada Muladhara berlebihan, maka efek yang terjadi secara perilaku adalah keegoisan / selfish, dorongan sex yang berlebihan, materialistis. Tetapi jika aliran energi pada Muladhara tidak optimal, maka yang terjadi adalah, tidak adanya percaya diri, gangguan perasaan tidak aman, lemahnya dorongan sex, tidak mampu mengambil putusan dalam hidup.

Swadhistana
Keseimbangan Swadhistana akan membuat seseorang menjadi kreatif, ramah kepada tiap orang, memiliki ketajaman intuisi, memiliki kepedulian terhadap orang lain, mengalami kehidupan sex yang normal. Jika Swadhistana mengalami kelebihan energi maka yang terjadi secara perilaku adalah sikap agresif, menganggap semua orang adalah obyek sex, emosional, dan mampu memanipulasi apapun. Sedangkan sebaliknya jika aliran energi pada Swadhistana tidak optimal, maka perilaku seseorang akan menjadi cenderung pemalu, terlalu takut untuk berhadapan dengan orang lain, introvert, emosi – emosi yang terpendam, dan ketidakpercayaan terhadap siapapun.

Manipura
Manipura sering juga disebut sebagai ‘singgahsana jiwa’, disinilah pusat energi cosmic memasuki tubuh fisik. Keseimbangan Manipura akan berpengaruh terhadap perilaku yang menyenangkan, mengalami ketenangan dalam berpikir dan bertindak, memiliki kepercayaan diri tinggi, kepribadian yang kuat, kemampuan – kemampuan yang beragam secara fisik / keterampilan. Jika terjadi kelebihan energi pada Manipura seseorang cenderung mengalami perilaku workaholic, tidak suka diatur, terlalu kritis terhadap apapun, perfeksionis, terlalu cerdas secara intelektual tetapi tidak mampu menerapkan dalam kehidupan, perilaku ini sangat tidak menyenangkan bagi orang lain tentunya. Jika Manipura mengalami kekurangan energi, yang terjadi adalah tubuh fisik sering mengalami lemah / lesu, tidak semangat, merasa selalu tidak aman, tidak memiliki percaya diri, tidak memiliki harga diri dan memilih bergantung pada orang lain.

Anahata
Keseimbangan Anahata menyebabkan seseorang memiliki perilaku yang sabar, memiliki pengertian, mampu mencintai tanpa kondisi, terjadinya keseimbangan emosi, dan sifat emphaty terhadap orang lain. Jika Anahata mengalami kelebihan energi yang terjadi adalah seseorang akan menjadi tempramental, emosional, posesif, tidak sabar, banyak permintaan (demanding), berbicara terlalu banyak (cerewet yang berlebihan), mood yang berubah – rubah (moody), dan sangat kritis terhadap apapun. Sedangkan jika Anahata kekurangan energi yang terjadi adalah paranoia (ketakutan berlebihan), perasaan tidak dicintai, sangat melekat pada apapun (takut kehilangan), selalu memiliki perasaan bersalah akan masa lalu atau apapun yang dilakukan.

Vishuddha
Keseimbangan Vishuddha memungkinkan seseorang menjadi pembicara yang baik, diplomatis, berseni, memiliki kemampuan untuk menjiwai keadaan yang sedang berlangsung, memiliki kepekaan terhadap energi dan perasaan, sehingga ia mampu menjadi pusat perhatian dari semua orang dalam lingkungan karena sikap menyenangkan ini. Kelebihan energi pada Vishuddha menyebabkan seseorang cenderung menjadi sombong, banyak bicara, tidak mau mendengarkan orang lain, memaksakan pendapat kepada orang lain. Sedangkan kekurangan energi pada Vishuddha menyebabkan seseorang cenderung mengalami perilaku tidak konsisten, tidak mampu mengekspresikan perasaan atau pendapat, penakut, tidak dapat dipercaya, mampu menipu atau memanipulasi apapun.

Ajna
Keseimbangan energi pada chakra Ajna memungkinkan seseorang untuk mampu melakukan telepati, mampu menghadapi perasaan takut dalam kondisi apapun, karismatik, memiliki pandangan yang luas tentang kehidupan, tidak materialistis, bijaksana dan obyektif karena ia memiliki pandangan yang sangat luas. Kelebihan energi pada Ajna menyebabkan kecenderungan menjadi eogis, sombong, dogmatik (memaksakan dogma kepada orang lain), merendahkan / menghina orang lain. Kekurangan energi pada Ajna menyebabkan seseorang menjadi tidak disiplin, lemah secara prinsip (penurut), sangat sensitif, kadang mengalami gejala skizofrenia ringan seperti terlalu sensitif terhadap apapun, emosi yang meledak – ledak, dan ketidakmampuan menerima kenyataan apapun.

Sahasrara
Keseimbangan chakra Sahasrara memungkinkan seseorang menjadi ‘magical’, melakukan hal – hal yang diatas kewajaran seperti meramal peristiwa, telekinesis, membaca pikiran, memahami bahasa alam semesta dengan menganalisa gejala fenomena yang terjadi, tidak memiliki ketakutan sama sekali akan kematian, memiliki kebijaksanaan pikiran, dan seringkali kemampuan fisiknya menjadi sangat tinggi, seperti kemampuan tenaga dalam, penyembuhan kepada orang lain, kemampuan berkomunikasi antar spesies dan dalam tingkat spiritual, serta memiliki pandangan sangat luas tentang alam semesta. Kelebihan energi pada Sahasrara akan menyebabkan seseorang menjadi depresi, migrain, mendengar bisikan – bisikan tertentu, berlaku seperti orang gila, bahkan gila dalam arti sebenarnya. Sedangkan kekurangan energi pada Sahasrara mengakibatkan seseorang menjadi cenderung tidak kreatif, melankolis, hanya mampu menjalankan pola tanpa mampu menganalisa pola tersebut, cenderung menjadi dogmatis dan mudah sekali terdoktrin oleh ajaran apapun tanpa menganalisa tentang itu, tidak mampu mengambil keputusan, tidak punya prinsip hidup, dan tidak menyadari bahwa sebenarnya manusia memiliki kapasitas jauh diatas standar yang kita ketahui.

Efek – efek dari optimalisasi chakra pada tubuh manusia merupakan kunci dari perilaku yang menyenangkan dan kesehatan fisik, dalam teori kesehatan modern ilmu ini mulai diterapkan karena lebih efektif untuk menentukan analisa terhadap semua penyakit fisik dan penyakit sosial yang terjadi pada masyarakat umum. Dalam teori – teori pengobatan tradisional selalu dikatakan bahwa tubuh manusia terhubung dengan aliran – aliran energi alam semesta yang masing – masing memiliki frekuensi berbeda, yang terhubung melalui chakra – chakra tubuh fisik. Ibarat sebuah orkestra, aliran – aliran energi tersebut memiliki frekuensi berbeda (nada) yang menghasilkan perpaduan dari 7 nada dasar (do – si), jika nada – nada tersebut seimbang, maka musik yang dihasilkan akan menyenangkan didengar telinga, tetapi jika salah satu atau lebih dari nada tersebut tidak seimbang, maka apa yang terdengar tentu tidak enak di telinga. Itu adalah analogi sederhana untuk menggambarkan chakra – chakra tubuh fisik manusia. Pengetahuan ini dapat anda gunakan sendiri terhadap diri sendiri dengan menganalisa perilaku diri sendiri untuk menemukan perilaku mana yang kurang seimbang dalam diri, dan mulai mencari cara untuk menyeimbangkan itu semua sehingga menjadi pribadi yang lebih menyenangkan dalam komunitas sosial.

Sebagian besar masyarakat dalam dunia modern mungkin tidak memiliki pengetahuan mendasar tentang chakra, karena pengetahuan ini hanya terdapat dalam ajaran – ajaran kuno yang sudah banyak terlupakan manusia, tetapi seiring dengan majunya teknologi modern saat ini, beberapa ilmuan meneliti lebih dalam tentang chakra tubuh dan efektifitas teknik pengobatan menggunakan cara ini. Belakangan, para peneliti yang melakukan penelitian terhadap medan energi tubuh menemukan bahwa sebenarnya selain tujuh titik yang dibahas dalam ajaran – ajaran kuno masih terdapat beberapa titik lain yang dapat terdeteksi oleh peralatan – peralatan pengukur energi dan frekuensi, maka mereka mendeskripsikan ada tambahan 6 titik yang signifikan dalam tubuh fisik manusia sehingga total chakra menjadi 13 titik. Tambahan titik yang ditemukan ini tidak mengubah tujuh sistem chakra yang telah ditemukan dalam peradaban kuno manusia, tetapi 6 titik baru adalah tambahan yang melengkapi pengetahuan itu, dan terkoneksi dengan ajaran – ajaran tentang itu. Dengan mempelajari ini sebenarnya manusia memiliki potensi untuk mengembangkan kemampuan diri menjadi lebih optimal dalam kehidupan sehingga pengetahuan apapun tentang alam semesta sebenarnya bisa lebih mudah dicapai, dengan atau tanpa teknologi. Keberadaan teknologi membantu untuk memberikan analisa dan membuktikan apa yang telah diajarkan nenek moyang manusia sejak masa lalu.

-David Devanta-

Comments

comments

Close