Belajar Dari Leluhur

Belajar Dari Leluhur : Pranata Mangsa (Aturan Waktu Musim).

Jauh sebelum teknologi pertanian diterapkan, nenek moyang bangsa kita sudah menfenal teknik penanggalan dalam bercocok tanam. Teknik ini mengajarkan para petani untuk lebih sensitif terhadap perubahan alam yang terjadi. Alhasil panenan berbagai komoditas yang diusahakan pada masa itu dapat lebih konsisiten dan memberikan hasil yang memuaskan bagi petani. Tak ayal kitab Arjunawiwaha juga mengisahkan bagaimana majunya sektor pangan pada masa itu menjadi salah satu pilar penopang jayanya kerajaan Majapahit. Lantas seperti apa pranata mangsa itu?

Pranata mangsa (bahasa Jawa: ꦥꦿ​ꦤ​ꦠ​ꦩꦁꦱ​, pranåtåmångså, berarti “ketentuan musim”) adalah semacam penanggalan yang dikaitkan dengan kegiatan usaha pertanian, khususnya untuk kepentingan bercocok tanam atau penangkapan ikan. Pranata mangsa berbasis peredaran matahari dan siklusnya (setahun) berumur 365 hari (atau 366 hari) serta memuat berbagai aspek fenologi dan gejala alam lainnya yang dimanfaatkan sebagai pedoman dalam kegiatan usaha tani maupun persiapan diri menghadapi bencana (kekeringan, wabah penyakit, serangan pengganggu tanaman, atau banjir) yang mungkin timbul pada waktu-waktu tertentu.

Penanggalan seperti ini juga dikenal oleh suku-suku bangsa lainnya di Indonesia, seperti etnik Sunda dan etnik Bali (di Bali dikenal sebagai Kerta Masa). Beberapa tradisi Eropa mengenal pula penanggalan pertanian yang serupa, seperti misalnya pada etnik Jerman yang mengenal Bauernkalendar atau “penanggalan untuk petani”. sebagai keperluan penelitian dan menandai pada tahun sebuah mangsa menggunakan angka tahun yang dimulai sejak 560 SM diambil dari Kelahiran Sang Budha sebagai penghormatan bagi agama yang pernah berkembang luas di nusantara, sehingga pada tanggal 30 Januari 2015 M adalah 39 Kapitu 2575 Mangsa.

Deskripsi.

Pranata mangsa dalam versi pengetahuan yang dipegang petani atau nelayan diwariskan secara oral (dari mulut ke mulut). Selain itu, ia bersifat lokal dan temporal (dibatasi oleh tempat dan waktu) sehingga suatu perincian yang dibuat untuk suatu tempat tidak sepenuhnya berlaku untuk tempat lain. Petani, umpamanya, menggunakan pedoman pranata mangsa untuk menentukan awal masa tanam. Nelayan menggunakannya sebagai pedoman untuk melaut atau memprediksi jenis tangkapan[1][2]. Selain itu, pada beberapa bagian, sejumlah keadaan yang dideskripsikan dalam pranata mangsa pada masa kini kurang dapat dipercaya seiring dengan perkembangan teknologi.

Pranata mangsa dalam versi Kasunanan (sebagaimana dipertelakan pada bagian ini) berlaku untuk wilayah di antara Gunung Merapi dan Gunung Lawu[3]. Setahun menurut penanggalan ini dibagi menjadi empat musim (mangsa) utama, yaitu musim kemarau atau ketigå (88 hari), musim pancaroba menjelang hujan atau labuh (95 hari), musim hujan atau dalam bahasa Jawa disebut rendheng (baca [rəndhəŋ ], 95 hari) , dan pancaroba akhir musim hujan atau marèng (IPA:[marɛŋ], 86 hari) .

Musim dapat dikaitkan pula dengan perilaku hewan, perkembangan tumbuhan, situasi alam sekitar, dan dalam praktik amat berkaitan dengan kultur agraris. Berdasarkan ciri-ciri ini setahun juga dapat dibagi menjadi empat musim utama dan dua musim “kecil” : terang (“langit cerah”, 82 hari), semplah (“penderitaan”, 99 hari) dengan mangsa kecil paceklik pada 23 hari pertama, udan (“musim hujan”, 86 hari), dan pangarep-arep (“penuh harap”, 98/99 hari) dengan mangsa kecil panèn pada 23 hari terakhir[3][4].

Dalam pembagian yang lebih rinci, setahun dibagi menjadi 12 musim (mangsa) yang rentang waktunya lebih singkat namun dengan jangka waktu bervariasi. Tabel berikut ini menunjukkan pembagian formal menurut versi Kasunanan. Perlu diingat bahwa tuntunan ini berlaku di saat penanaman padi sawah hanya dimungkinkan sekali dalam setahun, diikuti oleh palawija atau padi gogo, dan kemudian lahan bera (tidak ditanam).

1. Mangsa : Kasa (Kartika).

• Mangsa utama : Ketiga – Terang.

• Rentang waktu : 22 Juni – 1 Ags
(41 hari).

• Candra : ꦱꦺꦱꦺꦴꦠꦾ​ꦩꦸꦂꦕ​ꦲꦶꦁ​ꦲꦺꦩ꧀ꦧꦤꦤ꧀Sesotya murcå ing embanan (“Intan jatuh dari wadahnya” > daun-daun berjatuhan).

• Penciri : Daun-daun berguguran, kayu mengering; belalang masuk ke dalam tanah.

• Tuntunan (bagi petani) : Saatnya membakar jerami; mulai menanam palawija.

2. Mangsa : Karo (Pusa).

• Mangsa utama : Ketiga – Paceklik.

• Rentang waktu : 2 Ags – 24 Ags
(23 hari).

• Candra : ꦧꦤ꧀ꦠꦭ​ꦫꦺꦁꦏBantålå rengkå (“bumi merekah”).

• Penciri : Tanah mengering dan retak-retak, pohon randu dan mangga mulai berbunga.

• Tuntunan (bagi petani) : –

3. Mangsa : Katelu (Manggasri).

• Mangsa utama : Ketiga – Semplah.

• Rentang waktu : 25 Ags – 18 Sept
(24 hari).

• Candra : ꦱꦸꦠ​ꦩꦤꦸꦠ꧀​ꦲꦶꦁ​ꦧꦥ Sutå manut ing båpå (“anak menurut bapaknya”).

• Penciri : Tanaman merambat menaiki lanjaran, rebung bambu bermunculan.

• Tuntunan (bagi petani) : Palawija mulai dipanen.

4. Mangsa : Kapat (Sitra).

• Mangsa utama : Labuh – Semplah.

• Rentang waktu : 19 Sept – 13 Okt
(25 hari).

• Candra : ꦮꦱ꧀ꦥ​ꦏꦸꦩꦺꦩ꧀ꦧꦺꦁ​ꦗꦿꦺꦴꦤꦶꦁ​ꦏꦭ꧀ꦧꦸWaspå kumembeng jroning kalbu (“Air mata menggenang dalam kalbu” > mata air mulai menggenang).

• Penciri : Mata air mulai terisi; kapuk randu mulai berbuah, burung-burung kecil mulai bersarang dan bertelur.

• Tuntunan (bagi petani) : Panen palawija; saat menggarap lahan untuk padi gaga.

5. Mangsa : Kalima (Manggakala).

• Mangsa utama : Labuh – Semplah.

• Rentang waktu : 14 Okt – 9 Nov
(27 hari).

• Candra : ꦥꦚ꧀ꦕꦸꦫꦤ꧀​ꦩꦱ꧀​ꦱꦸꦩꦮꦸꦂ​ꦲꦶꦁ​ꦗꦒꦢ꧀Pancuran mas sumawur ing jagad (“Pancuran emas menyirami dunia”).

• Penciri : Mulai ada hujan besar, pohon asam jawa mulai menumbuhkan daun muda, ulat mulai bermunculan, laron keluar dari liang, lempuyang dan temu kunci mulai bertunas.

• Tuntunan (bagi petani) : Selokan sawah diperbaiki dan membuat tempat mengalir air di pinggir sawah, mulai menyebar padi gaga.

6. Mangsa : Kanem (Naya).

• Mangsa utama : Labuh – Udan.

• Rentang waktu : 10 Nov – 22 Des
(43 hari)

• Candra : ꦫꦱ​ꦩꦸꦭꦾ​ꦏꦱꦸꦕꦶꦪꦤ꧀Råså mulyå kasuciyan.

• Penciri : Buah-buahan (durian, rambutan, manggis, dan lain-lainnya) mulai bermunculan, belibis mulai kelihatan di tempat-tempat berair.

• Tuntunan (bagi petani) : Para petani menyebar benih padi di pembenihan.

7. Mangsa : Kapitu (Palguna).

• Mangsa utama : Rendheng – Udan.

• Rentang waktu : 23 Des – 3 Feb
(43 hari).

• Candra : ꦮꦶꦱ​ꦏꦺꦤ꧀ꦠꦶꦂ​ꦲꦶꦁ​ꦩꦫꦸꦠ Wiså kéntir ing marutå (“Racun hanyut bersama angin” > banyak penyakit).

• Penciri : Banyak hujan, banyak sungai yang banjir.

• Tuntunan (bagi petani) : Saat memindahkan bibit padi ke sawah.

8. Mangsa : Kawolu (Wisaka).

• Mangsa utama :
Rendheng – Pangarep-arep.

• Rentang waktu : 4 Feb – 28/29 Feb (26/27 hari).

• Candra : ꦲꦚ꧀ꦗꦿꦃ​ꦗꦿꦺꦴꦤꦶꦁ​ꦏꦪꦸꦤ꧀Anjrah jroning kayun (“Keluarnya isi hati” > musim kucing kawin.

• Penciri : Musim kucing kawin; padi menghijau; uret mulai bermunculan di permukaan.

• Tuntunan (bagi petani) : –

9. Mangsa : Kasanga (Jita).

• Mangsa utama : Rendheng – Pangarep-arep.

• Rentang waktu : 1 Mar – 25 Mar
(25 hari).

• Candra : ꦮꦼꦝꦫꦶꦁ​ꦮꦕꦤ​ꦩꦸꦭꦾWedharing wacånå mulyå (“Munculnya suara-suara mulia” > Beberapa hewan mulai bersuara untuk memikat lawan jenis).

• Penciri : Padi berbunga; jangkrik mulai muncul; tonggeret dan gangsir mulai bersuara, banjir sisa masih mungkin muncul, bunga glagah berguguran.

• Tuntunan (bagi petani) : –

10. Mangsa : Kasepuluh (Srawana).

• Mangsa utama : Marèng – Pangarep-arep.

• Rentang waktu : 26 Mar – 18 Apr
(24 hari).

• Candra : ꦒꦼꦝꦺꦴꦁ​ꦩꦶꦤꦼꦧ꧀​ꦗꦿꦺꦴꦤꦶꦁ​ꦏꦭ꧀ꦧꦸGedhong mineb jroning kalbu (“Gedung terperangkap dalam kalbu” > Masanya banyak hewan bunting).

• Penciri : Padi mulai menguning, banyak hewan bunting, burung-burung kecil mulai menetas telurnya.

• Tuntunan (bagi petani) : –

11. Mangsa : Desta (Padrawana).

• Mangsa utama : Marèng – Panèn.

• Rentang waktu : 19 Apr – 11 Mei
(23 hari).

• Candra : ꦱꦼꦱꦺꦴꦠꦾ​ꦱꦶꦤꦫꦮꦺꦢꦶSesotyå sinåråwèdi (“Intan yang bersinar mulia”).

• Penciri : Burung-burung memberi makan anaknya, buah kapuk randu merekah.

• Tuntunan (bagi petani) : Saat panen raya génjah (panen untuk tanaman berumur pendek).

12. Mangsa : Sada (Asuji).

• Mangsa utama : Marèng – Terang.

• Rentang waktu : 12 Mei – 21 Juni
(41 hari).

• Candra : ꦠꦶꦂꦠ​ꦱꦃ​ꦱꦏꦶꦁ​ꦱꦱꦤ Tirtå sah saking sasånå (“Air meninggalkan rumahnya” > jarang berkeringat karena udara dingin dan kering).

• Penciri : Suhu menurun dan terasa dingin (bediding).

• Tuntunan (bagi petani) : Saatnya menanam palawija: kedelai, nila, kapas, dan saatnya menggarap tegalan untuk menanam jagung.

Kombinasi Ilmu dan Pengalaman.

Pranata mangsa adalah sistem penanggalan yang menjadikan alam sebagai petunjuk tentang apa-apa yang harus petani lakukan dan berikan pada pertanaman. Sistem ini melatih kecermatan dan kepekaan indra petani untuk mengamati, merasakan, dan membaca alam. Untuk memahami pranata mangsa indra harus lihai menanggapi berbagai macam perubahan yang terjadi di alam. Kicau burung, desir angin, maupun cahaya matahari dapat menjadi petunjuk bagi petani Penggunaan sistem penanggalan ini adalah sebuah teknologi yang benar-benar brilian. Kalender pranata mangsa menunjukkan adanya korelasi antara biologi, kosmologi, klimatologi, dan sosiologi masyarakat pedesaan. Secara langsung, teknik ini mengharmonisasikan antara manusia dengan alam, persis seperti dasar konsep ekologi, dimana keberadaan manusia adalah bagian penting dalam sebuah ekosistem yang patut mengerti bagaimana alam, seperti apa kondisi alam, dan apa yang harus dilakukan.

Pranata mangsa mengenal siklus tahunan dalam bertani. Dalam siklus ini terdapat 12 mangsa atau waktu dengan simbol berbeda-beda. Keduabelas mangsa itu diantaranya kasa (bintang sapi gumarah), karo (tagih), katelu (lumbung) dan sebagainya. Nama tiap mangsa sebenarnya dibuat berbeda-beda berdasarkan karakter alam yang terjadi. Watak mangsa kasa misalnya, dengan rentang waktu 22 Juni – 1 Agustus dimana alam mencirikan gugurnya dedaunan, mengeringnya kayu, dan telur serangga menetas maka saatnya bagi petani untuk membakar jerami dan mulai menanam palawija.1 Unik, klasik, antik dan memang begitulah kesan ketika membaca pranata mangsa tetapi keunikan tersebut yang membuat pertanian pada masa lampau sukses pada eranya

Zaman dahulu, dengan hanya modal sistem pranata mangsa, pertanian di Nusantara pernah sangat maju. Sriwijaya dan Majapahit merupakan bukti nyata betapa negeri ini pernah benar-benar berdaulat atas pangan berbasis pangan lokal yang tersedia, berdasar potensi lokal yang ada. Kejayaan itu termaktub dalam kitab Arjunawiwaha dan prasati Kamalagi. Bila kita cermati menggunakan pranata mangsa berarti sistem pertanaman kita akan lebih tertata dan teratur. Kedua, sistem ini mengajarkan kita kapan waktu yang tepat untuk melakukan aktifitas tani dari mulai pengolahan lahan, penanaman, hingga terdengar kicauan burung yang memberi makan anaknya, tanda waktu panen segera tiba. Alam adalah petunjuk dan sahabat petani. Ketiga, banyak sekali kearifan lokal sebagai turunan dari sistem penanggalan pranata mangsa sebagai hasil dari ilmu titen nenek moyang.

Sejarah dan Antropologi.

Bentuk formal pranata mangsa diperkenalkan pada masa Sunan Pakubuwana VII (raja Surakarta) dan mulai dipakai sejak 22 Juni 1856, dimaksudkan sebagai pedoman bagi para petani pada masa itu.[6][7] Perlu disadari bahwa penanaman padi pada waktu itu hanya berlangsung sekali setahun, diikuti oleh palawija atau padi gogo. Selain itu, pranata mangsa pada masa itu dimaksudkan sebagai petunjuk bagi pihak-pihak terkait untuk mempersiapkan diri menghadapi bencana alam, mengingat teknologi prakiraan cuaca belum dikenal. Pranata mangsa dalam bentuk “kumpulan pengetahuan” lisan tersebut hingga kini masih diterapkan oleh sekelompok orang dan sedikit banyak merupakan pengamatan terhadap gejala-gejala alam[1].

Terdapat petunjuk bahwa masyarakat Jawa, khususnya yang bermukim di wilayah sekitar Gunung Merapi, Gunung Merbabu, sampai Gunung Lawu, telah mengenal prinsip-prinsip pranata mangsa jauh sebelum kedatangan pengaruh dari India.[8] Prinsip-prinsip ini berbasis peredaran matahari di langit dan peredaran rasi bintang Waluku (Orion)[9]. Di wilayah dengan tipe iklim Am menurut Koeppen ini, penduduknya menerapkan penanggalan berbasis peredaran matahari dan rasi bintang sebagai bagian dari keselarasan hidup mengikuti perubahan irama alam dalam setahun[3][10]. Pengetahuan ini dapat diperkirakan telah diwariskan secara turun-temurun sejak periode Kerajaan Medang (Mataram Hindu) dari abad ke-9 sampai dengan periode Kesultanan Mataram pada abad ke-17 sebagai panduan dalam bidang pertanian, ekonomi, administrasi, dan pertahanan (kemiliteran)[3].

Perubahan teknologi yang diterapkan di Jawa semenjak 1970-an, berupa paket intensifikasi pertanian seperti penggunaan pupuk kimia, kultivar berumur genjah (dapat dipanen pada umur 120 hari atau kurang, sebelumnya memakan waktu hingga 180 hari), meluasnya jaringan irigasi melalui berbagai bendungan atau bendung, dan terutama berkembang pesatnya teknik prakiraan cuaca telah menyebabkan pranata mangsa (dalam bentuk formal versi Kasunanan) kehilangan banyak relevansi[11][3]. Isu perubahan iklim global yang semakin menguat semenjak 1990-an juga membuat pranata mangsa harus ditinjau kembali karena dianggap “tidak lagi dapat dibaca”[12].

Kosmografi dan Klimatologi.

Pranata mangsa memiliki latar belakang kosmografi (“pengukuran posisi benda langit”), pengetahuan yang telah dikuasai oleh orang Austronesia sebagai pedoman untuk navigasi di laut serta berbagai kegiatan ritual kebudayaan. Karena peredaran matahari dalam setahun menyebabkan perubahan musim, pranata mangsa juga memiliki sejumlah penciri klimatologis.

Awal mangsa kasa (pertama) adalah 22 Juni, yaitu saat posisi matahari di langit berada pada Garis Balik Utara, sehingga bagi petani di wilayah di antara Merapi dan Lawu saat itu adalah saat bayangan terpanjang (empat pecak/kaki ke arah selatan). Pada saat yang sama, rasi bintang Waluku terbit pada waktu subuh (menjelang fajar). Dari sinilah keluar nama “waluku”, karena kemunculan rasi Orion pada waktu subuh menjadi pertanda bagi petani untuk mengolah sawah/lahan menggunakan bajak (bahasa Jawa: waluku)[9].

Panjang rentang waktu yang berbeda-beda di antara keempat mangsa pertama (dan empat mangsa terakhir, karena simetris) ditentukan dari perubahan panjang bayangan. Mangsa pertama berakhir di saat bayangan menjadi tiga pecak, dan mangsa karo (kedua) dimulai. Demikian selanjutnya, hingga mangsa keempat berakhir di saat bayangan tepat berada di kaki, di saat posisi matahari berada pada zenit untuk kawasan yang disebutkan sebelumnya (antara Merapi dan Lawu). Pergerakan garis edar matahari ke selatan mengakibatkan pemanjangan bayangan ke utara dan mencapai maksimum sepanjang dua pecak di saat posisi matahari berada pada Garis Balik Selatan (21/22 Desember), dan menandai berakhirnya mangsa kanem (ke-6). Selanjutnya proses berulang secara simetris untuk mangsa ke-7 hingga ke-12. Sebuah jam matahari di Gresik yang dibuat pada tahun 1776 secara eksplisit menunjukkan hal ini[13].Mangsa ke-7 ditandai dengan terbenamnya rasi Waluku pada waktu subuh[9]. Beberapa rasi bintang, bintang, atau galaksi yang dijadikan rujukan bagi pranata mangsa adalah Waluku, Lumbung (Gubukpèncèng, Crux),
Banyakangrem (Scorpius), Wuluh (Pleiades), Wulanjarngirim (alpha- dan beta-Centauri), serta Bimasakti[3].

Batas-batas eksak tanggal pada pranata mangsa versi Kasunanan merupakan modifikasi kecil terhadap pranata mangsa yang sudah dikenal sebelumnya yang didasarkan pada posisi benda-benda langit.

Secara klimatologi, pranata mangsa mengumpulkan informasi mengenai perubahan musim serta saat-saatnya yang berlaku untuk wilayah Nusantara yang dipengaruhi oleh angin muson, yang pada gilirannya juga dikendalikan arahnya oleh peredaran matahari. Awal musim penghujan dan kemarau serta berbagai pertanda fisiknya yang digambarkan pranata mangsa secara umum sejajar dengan hasil pengamatan klimatologi. Kelemahan pada pranata mangsa adalah bahwa ia tidak menggambarkan variasi yang mungkin muncul pada tahun-tahun tertentu (misalnya akibat munculnya gejala ENSO). Selain itu, terdapat sejumlah ketentuan pada pranata mangsa yang lebih banyak terkait dengan aspek horoskop, sehingga cenderung tidak logis[3].

Upaya Penggunaan Kembali.

Karena pranata mangsa dianggap sudah “usang” namun tetap dianggap penting sebagai pedoman bagi petani/nelayan mengingat fungsinya sebagai penghubung petani/nelayan dengan lingkungan[3], upaya-upaya dilakukan untuk memodifikasi pranata mangsa dengan memanfaatkan informasi-informasi baru. Di bidang penangkapan ikan telah dilakukan upaya untuk menggunakan kalender semacam pranata mangsa sebagai pedoman bagi nelayan dalam melakukan penangkapan ikan[2]. Informasi ini berguna, misalnya, untuk menentukan kelaikan penangkapan serta musim-musim jenis tangkapan[1][2].

Di bidang pertanian tanaman pangan, telah dikembangkan Sekolah Lapang Iklim (SLI) untuk meningkatkan kemampuan petani dalam memahami berbagai aspek prakiraan cuaca dan hubungannya dengan usaha tani[14]. Kegiatan SLI dimaksudkan untuk membuat petani mampu “menerjemahkan” informasi prakiraan cuaca yang sering kali sangat teknis, sekaligus membuat petani mampu mengadaptasikannya dengan kearifan lokal yang telah lama dimiliki[15]. Dalam kaitan dengan SLI, pranata mangsa menjadi rujukan untuk berbagai gejala alam yang diperkirakan muncul sebagai tanggapan atas kondisi cuaca/perubahan iklim. Pranata mangsa masih tetap dapat diandalkan dalam kaitan dengan pengamatan atas gejala alam[11]. Kemampuan membaca gejala alam ini penting karena petani perlu beradaptasi apabila terjadi perubahan dengan mengubah pola tanam[12].

Kita Mulai Lupa

Era ini, sistem pranata mangsa mulai dilupakan oleh petani muda. Walau begitu sampai saat ini pemanasan global memang tak dapat dipungkiri menjadi faktor primordial dalam pertanian kita. Pemanasan global merubah kodrat alam menjadi menyimpang, kemarau jadi hujan, musim hujan beralih ke kemarau. Hal ini menjadi salah satu kendala bagi petani untuk menentukan apa yang harus dilakukan dalam budidaya, menyulitkan petani untuk merunut pada pranata mangsa, menyulitkan petani mencermati alam. Kacaunya kondisi alam memang dapat diakali dengan peningkatan intensifikasi melalui berbagai usaha, tetapi lihat kondisi saat ini dimana global warming justru makin diperparah dengan maraknya mekanisasi pertanian sebagai dampak negatif intensifikasi pertanian yang tidak sehat dan non eco-saving. Pencemaran makin marak, bahan kimia makin bertebaran, kondisi air yang makin buruk, yang berakibat fatal terhadap ekosistem. Bukti nyata dapat kita saksikan dilapangan, langkanya beberapa jenis burung di areal persawahan, menurunnya kualitas tanah, hingga cemaran pestisida kimia pada berbagai sayur mayur yang kita konsumsi.

Era modern dan era globalisasi saat ini ternyata menuntut para pelaku tani menjadi berwawasan internasional. Tak terkecuali bibit yang ditanam (yang bahkan Indonesia masih dominan impor), pupuk yang digunakan, bahkan cara tanam pun mulai mengadopsi asing. Petani mulai mengesampingkan indegeneous knowledge. Kearifan lokal dari leluhur yang mana didapatkan dari pengalaman nenek moyang mulai ditinggalkan. Seperti yang diutarakan Robert Chambers bahwa masyarakat kita memiliki keunggulan yaitu kemampuan mempelajari dari pengalaman. Padahal justru dari pengalaman inilah masyarakat kita pada masa lalu mengetahui permasalahan yang kita hadapi sekaligus solusinya. Benih lokal apa yang cocok ditanam di area ini, pupuk apa yang baik untuk tanaman di daerah ini, menggunakan apa pengendalian hama yang berdasar kaidah lingkungan dan sebagainya. Akankah local wisdom itu akan kita campakkan?

Lestarikan Kearifan Lokal

Sejatinya ada beberapa musabab yang menjadikan pranata mangsa mulai ditinggalkan, Era globalisasi yang mendorong masyarakat kita untuk lebih open minded, termasuk petani, sehingga mulai melunturkan budaya ketimuran kita yang cenderung ekspresif dengan mengkiblat pada budaya barat yang cenderung progresif. Globalisasi juga menjadi faktor kunci yang menggerogoti sistem pranata mangsa, sehingga musim kita menjadi agak semrawut. Padahal sejatinya masih terdapat korelasi yang nyata antara gejala alam yang tersebut pada pranata mangsa dengan kondisi saat ini.2 Namun mungkin inilah penyebab dimana pranata mangsa mulai redup dan bahkan dampaknya sektor pertanian dianggap kurang potensial lagi. Berbeda 180° dengan masa lalu dimana bertani memang dianggap sebagai jalan hidup, sumber pokok pencaharian, dan sektor dimana kita bisa mengambil manfaat dengan penyelarasan diri dengan alam berupa hasil tani. Saat ini pertanian dianggap pekerjaan yang tergolong rendah, parameter kemiskinan, dan indikator ketidakberdayaan. Akhirnya, banyak petani yang mulai kehilangan jiwanya sebagai petani. Idealisme tentang marwahnya menjadi petani termasuk idealisme petani sebagai bagian dari alam dan implikasinya yang harus bersahabat dengan alam, seperti yang diajarkan dalam pranata mangsa, bukan justru memerintah alam dalam bertani. Sudah saatnya buku lama itu kita buka kembali, kita gali berbagai macam kearifan lokal dalam sistem budidaya, kita terapkan berbagai macam local wisdom masyarakat desa yang terbungkus apik dalam kesederhanaan dan kesahajaan pranata mangsa. Harapannya adagium kuno “Negara gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerta raharja, murah sandang murah pangan” benar-benar akan terwujud di bumi Nusantara.

Daftar Pustaka.

1. Kusuma M. Berlayar dengan Panduan Pranata Mangsa. Kompas daring. Edisi 20-01-2009. Diakses 26-06-2010.

2. Hubungan pranata mangsa dengan musim penangkapan ikan. Artikel pada laman Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi DI Yogyakarta.

3. Daldjoeni N. 1984. Pranatamangsa, the javanese agricultural calendar – Its bioclimatological and sociocultural function in developing rural life. The Environmentalist 4:15–18DOI:10.1007/BF01907286.

4. Pranata salah mangsa. Artikel pada blog Rawins. 14 Desember 2009

5. PRANOTO MONGSO ( aturan waktu musim )

6. Yuwono S. Pranoto Mongso, Aliran Musim asli Jawa.

7. Tanojo R. 1962. Primbon Djawa (Sabda Pandita Ratu). TB Pelajar. Surakarta. pp 36–45.

8. Hien HA van. 1922. De Javaansche Geestenwereld. Kolff. Batavia. pp. 310–355.

9. Pranata Mangsa Masih Bisa Dibaca (Seribu Tahun Lagi)

10. Pranata mangsa kanggo nyrateni lakune alam. Solopos daring. Edisi Suplemen 25-02-2010. Diakses 26-06-2010.

11. Sriyanto. Bertahan walau iklim tak menentu. Majalah Daring “Salam” edisi 26 tahun 2009.

12. Inggried Dwi Wedhaswary. Ketika “pranata mangsa” tak lagi bisa dibaca… Kompas Daring edisi 10-11-2009. Diakses 27-06-2010

13. King DA. 1990. A Survey of Medieval Islamic Shadow Schemes for Simple Time-Reckoning Oriens 32:191-249

14. ASEAN Minati Sekolah Lapang Iklim di Indramayu. Antara Daring edisi 5-09-2007. Diakses 27-06-2010.

15. Direktorat Pengelolaan Air Dep. Pertanian RI. 2009. Pedoman Sekolah Lapang Iklim 2009

Anonim. 2014. Pranata Mangsa dan Perdamaian dengan Tikus. http://www.sinarharapan.co/news/read/140326044/Pranata-Mangsa-dan-Perdamaian-dengan-Tikus diakses 17 Juli 2016

Zaki, Muhammad Khoiru. 2016. Relevansi Penanggalan Pranata Mnagsa Dalam Penentuan Waktu Tanam Padi Sawah. Thesis, Universitas Sebelas Maret

Sumber :

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Pranata_mangsa

http://dema.faperta.ugm.ac.id/2016/07/19/belajar-dari-leluhur-pranata-mangsa/

Comments

comments

Close