Tulang Homo Sapiens Tertua yang Pernah Ditemukan, …

Tulang Homo Sapiens Tertua yang Pernah Ditemukan, Mengguncang Fondasi Kisah Manusia.

Gagasan mengenai manusia modern yang berevolusi di Afrika Timur 200.000 tahun yang lalu tertantang oleh penemuan luar biasa berusia 300.000 tahun di sebuah tambang Maroko.

Fosil yang ditemukan dari sebuah tambang tua di sebuah gunung terpencil di Maroko telah mengguncang fondasi manusia yang paling bertahan abad ini : “Homo sapiens muncul di tempat kelahiran manusia di Afrika Timur 200.000 tahun yang lalu.”

Arkeolog menemukan paling sedikitnya tulang lima orang di Jebel Irhoud, sebuah bekas tambang barit yang berjarak 100 km barat Marrakesh, dalam penggalian yang berlangsung bertahun-tahun. Mereka tahu jasadnya sudah tua, namun tercengang saat tes penanggalan menunjukkan perkakas gigi dan batu yang ditemukan bersamaan dengan tulang berusia sekitar 300.000 tahun.

“Reaksi saya adalah ‘wow’ banget,” kata Jean-Jacques Hublin, seorang ilmuwan senior di tim di Institut Max Planck untuk Antropologi Evolusioner di Leipzig. “Saya harap ini tua, namun bukan setua itu, kali…”

Hublin mengatakan bahwa usia tulang yang ekstrem menjadikannya spesimen manusia modern tertua yang diketahui dan merupakan tantangan besar bagi gagasan paling awal spesies kita yang berevolusi dalam “Taman Eden” di Afrika Timur seratus ribu tahun kemudian.

“Ini memberi kita gambaran evolusi spesies kita yang sama sekali jauh berbeda. masa lalu ini melampaui lebih jauh, namun proses evolusi nampak berbeda dengan apa yang kita pikirkan, “kata Hublin kepada Kantor Berita Guardian. “Sepertinya spesies kita sudah ada di seluruh Afrika sekitar 300.000 tahun yang lalu. Jika memang ada Taman Eden, kemungkinan ukurannya adalah sebesar benua. ”

Jebel Irhoud telah melemparkan teka-teki bagi ilmuwan sejak fosil tulang pertama kali ditemukan di lokasi tersebut pada tahun 1960-an. Sisa-sisa yang ditemukan pada tahun 1961 dan 1962, dan alat-alat batu yang ditemukan bersamaan, dikaitkan dengan Neanderthal dan pada awalnya dahulu dianggap berusia 40.000 tahun. Pada saat itu, sebuah pandangan populer berpendapat bahwa manusia modern berevolusi dari jalur Neanderthal. Saat ini, Neanderthal dianggap sebagai kelompok saudara perempuan yang tinggal berdampingan, dan bahkan menurunkan nenek moyang manusia modern kita.

Dalam penggalian baru di situs Jebel Irhoud, Hublin dan rekan lainnya menemukan lebih banyak lagi, termasuk belahan tengkorak, tulang rahang, gigi dan tulang tungkai milik tiga orang dewasa, remaja, dan seorang anak berusia sekitar delapan tahun. Jenazahnya, lebih banyak menyerupai manusia modern daripada spesies lainnya, ditemukan di dasar gua batu kapur tua yang atapnya hancur saat pengoperasian di lokasi penambangan. Di samping tulang-tulangnya, para peneliti menemukan alat flint (batu api : batu yang digunakan untuk membuat api) yang telah diasah, sejumlah besar tulang rusa, dan bongkahan arang, yang mungkin tertinggal dari api yang pernah menghangatkan orang-orang yang tinggal di sana.

“Pemandangannya agak sepi, tapi diatas cakrawala terbentang pegunungan Atlas dengan salju di atasnya yang sangat indah,” kata Hublin. “Ketika kami menemukan tengkorak dan rahang bawah saya menjadi begitu emosional. Mereka hanyalah seonggok fosil, namun mereka dahulu adalah manusia dan dengan sekejap Anda merasakan hubungan dengan orang-orang yang tinggal dan meninggal di sini 300.000 tahun yang lalu. ”

Para ilmuwan telah lama melihat Afrika Timur sebagai tempat kelahiran manusia modern. Sebelum penemuan terakhir dari Jebel Irhoud, sisa-sisa spesies purba tertua yang ada ditemukan di Omo Kibish Ethiopia dan bertanggal 195.000 tahun. Fosil dan bukti genetik lainnya semuanya mengarah dari Afrika untuk temuan manusia modern.

Dalam dua makalah pertama yang dipublikasikan di Nature pada hari Rabu, para periset menggambarkan bagaimana mereka membandingkan fosil yang baru saja digali dengan manusia modern, Neanderthal dan kerabat manusia purba yang hidup hingga 1,8 juta tahun yang lalu. Secara kemiripan wajah, yang paling dekat adalah dengan manusia modern. Rahang bawahnya mirip dengan Homo sapiens modern juga, tapi jauh lebih besar. Perbedaan yang paling mencolok adalah bentuk otak yang lebih memanjang daripada manusia saat ini. Ini menunjukkan, kata Hublin, bahwa otak modern berevolusi dalam Homo sapiens dan bukan diwarisi dari pendahulunya.

Selain lebih gagah dan berotot, fisik orang dewasa di Jebel Irhoud nampak mirip dengan orang yang hidup hari ini. “Wajah spesimen yang kami temukan adalah wajah seseorang yang bisa Anda temui di layar kaca London,” kata Hublin. Dalam makalah kedua, para ilmuwan menyusun bagaimana mereka menanggali perkakas batu tersebut hingga antara 280.000 dan 350.000 tahun, dan satu-satunya gigi yang ditemukan berusia 290.000 tahun.

Sisa-sisa individu yang lain mungkin masih dapat ditemukan di situs ini. Tapi justru apa yang mereka (homo sapiens) lakukan di sana tidak jelas. Analisis alat batu menunjukkan bahwa batu-batu tersebut bukan berasal dari daerah setempat, melainkan dari daerah berjarak 50 km arah selatan Jebel Irhoud. “Mengapa mereka datang ke sini? Mereka membawa toolkit (peralatan dan perlengkapan) mereka dan mereka kehabisan tenaga, “kata Hublin. ” Perkakas yang mereka bawa telah diasah, diasah kembali, dan dipasang kembali. Mereka tidak menghasilkan perkakas baru di tempat ini. Mungkin mereka tidak bertahan selama itu, atau mungkin itu adalah area untuk melakukan sesuatu yang spesifik. Kami pikir mereka berburu rusa, ada banyak tulang rusa, dan mereka banyak membuat api unggun. ”

Hublin mengakui bahwa ilmuwan memiliki terlalu sedikit fosil untuk mengetahui apakah manusia modern telah menyebar ke empat penjuru Afrika 300.000 tahun yang lalu. Spekulasi tersebut didasarkan pada ciri serupa pada tengkorak berusia 260.000 tahun yang ditemukan di Florisbad Afrika Selatan.

Tapi dia merasa teori itu menarik. “Ide awalnya adalah Homo sapiens purba tersebar di sekitar benua dan unsur-unsur modernitas manusia muncul di tempat yang berbeda, dan pada wilayah Afrika yang berbeda turut menyebabkan kemunculan yang kita sebut manusia modern saat ini,” katanya.

John McNabb, seorang arkeolog di University of Southampton, mengatakan : “Salah satu pertanyaan besar kemunculan manusia modern anatomis telah membuat rancangan tubuh kita berkembang dengan cepat atau perlahan. Temuan ini tampaknya menyarankan pada teori yang terakhir. Sepertinya wajah kita menjadi modern jauh sebelum tengkorak kita terbentuk seperti yang kita lihat hari ini. ”

“Ada beberapa kemungkinan menarik di sini juga. Alat yang dibuat orang-orang di Jebel Irhoud didasarkan pada teknik memecahkan batu yang disebut Levallois, cara yang canggih untuk membentuk perkakas – perkakas batu. Usia 300.000 tahun yang lalu menambah kesadaran bahwa Levallois berasal lebih awal dari yang kita duga. Apakah Jebel Irhoud menyampaikan kepada kita teknologi baru ini terkait dengan munculnya garis hominin yang akan menurunkan manusia modern? Apakah penemuan baru ini menyiratkan ada lebih dari satu keturunan hominin di Afrika saat ini? Ini benar-benar mengaduk-aduk asalnya. ”

Lee Berger, yang timnya baru-baru ini menemukan Homo naledi berusia 300.000 tahun, seorang kerabat manusia berwajah kuno, di dekat lokasi Cradle of Humankind World Heritage di luar Johannesburg, mengatakan bahwa menanggali tulang Jebel Irhoud sangat mendebarkan, namun tidak meyakinkan bahwa manusia modern dahulu tinggal semua diseluruh Afrika. “Mereka telah mengambil dua titik data dan tidak menarik garis penghubung di antaranya, melainkan sebuah peta raksasa Afrika,” katanya.

John Shea, seorang arkeolog dari Universitas Stony Brook New York yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut, mengatakan bahwa dia berhati-hati setiap kali peneliti mengklaim telah menemukan yang tertua dari apapun. “Sebaiknya jangan menilai dengan gembar gembor saat pertama kali diumumkan, tapi menunggu dan melihat beberapa tahun ke depan, apakah ombak dari gembar gembor itu telah mengubah garis pantai,” katanya, menambahkan bahwa perkakas batu dapat bergerak disekitar sedimen gua dan menetap di lapisan usia tanah yang berbeda.

Shea juga tidak nyaman dengan ilmuwan yang menggabungkan fosil dari individu yang berbeda, dan membandingkan rekonstruksi tengkorak lengkap dari sisa-sisa fragmen. “Seperti juga ‘chimera’ bisa terlihat sangat berbeda dari individu di mana mereka berasal,” katanya.

“Bagi saya, mengklaim jasad ini adalah Homo sapiens, meluaskan arti istilah itu sedikit,” tambah Shea. “Manusia yang hidup antara 50.000-300.000 tahun yang lalu ini adalah kelompok yang beragam secara morfologis. Setiap kali kita menemukan sampel mereka dari deposit yang sama, seperti di Omo Kibish dan Herto Ethiopia atau Skhul dan Qafzeh Israel, morfologi mereka tersebar baik di dalam maupun di antara sampel-sampelnya. ”

Namun Jessica Thompson, seorang antropolog Universitas Emory Atlanta, mengatakan hasil baru tersebut menunjukkan betapa luar biasanya situs Jebel Irhoud. “Fosil ini adalah yang terlangka diantara yang langka karena catatan fosil manusia dari periode waktu ini di Afrika sangat kurang menunjukkan. Hal ini memberi kita gambaran langsung awal spesies kita, dan juga perilaku mereka.

“Anda mungkin kaget jika melihat dahi alis mereka dibanding pada orang yang hidup. Mungkin bukan wajah yang akan kita lihat setiap hari, tapi anda pasti akan segera mengenalinya sebagai manusia yang utuh, “katanya. “Ini sepertinya yang terlihat di Afrika khususnya, namun juga terjadi secara global, yaitu evolusi kita ditandai oleh berbagai spesies yang beragam yang semuanya hidup pada saat bersamaan dan bahkan mungkin berada di lokasi yang sama.”

Video :

https://youtu.be/UagdU1qYnC8

Sumber :

https://www.theguardian.com/science/2017/jun/07/oldest-homo-sapiens-bones-ever-found-shake-foundations-of-the-human-story

Comments

comments

Close