TERUNGKAP

TERUNGKAP: SIAPA SOSOK BATHARA WISNU ATAU VISHNU YANG SEBENARNYA

Originally Written by:
Yeddi Aprian Syakh Al-Athas

*** Mohon agar dibaca pelan-pelan karena tulisan ini cukup panjang.

*** Seperti biasa, tulisan saya ini merupakan kajian berbasis pendekatan “Etno-Linguistik” yang belakangan menjadi sebuah pendekatan baru dalam melihat sejarah, sebagaimana disampaikan oleh Dr. Ir. Ricky Avenzora, M.Sc, staf pengajar Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.

Bismillaahirrahmaanirrahiim,

Sampurasun…

Entah mengapa tiba-tiba aja di pagi yang Indah ini, saya mendapat pengajaran tentang Makna dibalik nama ‘WISNU’.

Selama ini kita mengenal nama ’WISNU’ sebagai salah satu Dewa Tri Murti dalam Tradisi Hindu yakni ‘BRAHMA – WISNU – SIWA’.

Namun rupanya terlepas dari Ajaran Tri Murti tentang ‘BRAHMA – WISNU – SIWA’ rupanya ada rahasia yang dalam dibalik nama ’WISNU’ yang merupakan nama gelar .

Ternyata nama ’WISNU’ ditulis dalam Huruf Arab sebagai ’WAISNAWA’ (Waw-Ya-Sin-Nun-Wa) atau dalam Huruf Ibrani ‘VAISNAVA’ (Vav-Yod-Samech-Nun-Vav) dengan nilai gematria sbb:

‘WISNU’ (WAISNAWA)
Waw-Ya-Sin-Nun-Waw
👉 Waw = 6.
👉 Ya = 10.
👉 Sin = 60.
👉 Nun = 50.
👉 Waw = 6.
’WISNU’ = 6+10+60+50+6 = 132.

’VISNU’ (VAISNAVA)
Vav-Yod-Samech-Nun-Vav
👉 Vav = 6.
👉 Yod = 10.
👉 Samech = 60.
👉 Nun = 50.
👉 Vav = 6.
’VISNU’ = 6+10+60+50+6 = 132.

Nah ternyata lewat bilangan ’132’ ini sebagai nilai gematria dari kata ‘WISNU’ justru akan mengungkap siapa sosok sebenarnya yang bergelar ‘WISNU’ ini.

Dengan seizin Sang BATARA WISNU, disini saya hanya akan memberikan DUA pola pemaknaan saja dari Nilai Gematria ’132’ ini untuk dapat menjawab sedikit rasa keingintahuan beberapa orang follower saya di facebook yang sangat penasaran akan siapa sosok dibalik gelar ’WISNU’ ini.

PERTAMA:
Bilangan ’132’ merupakan Nilai Gematria dari rangkaian huruf ‘Qaf – Lam – Ba’ yang akan dibaca sebagai ‘QALABA’ atau ’QALBU’ yang dalam Bahasa Arab berarti ‘HATI’ atau ‘JANTUNG’.

Di dalam Al-Kitab Perjanjian Lama (al-Ahd al-Qadim) diabadikan doa dari seorang anak manusia yang hanya meminta SATU HAL kepada Tuhannya yakni meminta diberikan ’HATI YANG PAHAM’ dan alhasil justru Tuhan memberikannya bonus selain KEPAHAMAN yakni berupa KEKAYAAN dan KERAJAAN.

”Maka berikanlah kepada hamba-Mu ini HATI YANG PAHAM menimbang perkara untuk menghakimi umat-Mu dengan dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat, sebab siapakah yang sanggup menghakimi umat-Mu yang sangat besar ini?” (Kitab 1 Raja-Raja 3:9)

Pertanyaannya:
Siapa gerangan yang telah berdoa dengan doa seperti itu hingga doanya diabadikan dalam Al-Kitab?

Dan ternyata jawabnya ada pada QS. Al-Anbiya 21:79 berikut:

فَفَهَّمْنَاهَا سُلَيْمَانَ ۚ وَكُلًّا آتَيْنَا حُكْمًا وَعِلْمًا ۚ وَسَخَّرْنَا مَعَ دَاوُودَ الْجِبَالَ يُسَبِّحْنَ وَالطَّيْرَ ۚ وَكُنَّا فَاعِلِينَ

“Maka Kami (berikan) KEPAHAMAN (kepada) SULAIMAN dan kepada masing-masing (Daud dan Sulaiman) Kami berikan HIKMAH dan ILMU dan Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud. Dan Kamilah yang melakukannya”.

👆Ternyata Al-Quran mengungkapkan kepada kita bahwa sosok yang telah berdoa diberikan ‘HATI YANG PAHAM’ adalah NABI SULAIMAN as dan bahkan ayat di atas menegaskan bahwa hanya Nabi Sulaiman as saja yang diberikan KEPAHAMAN dan tidak kepada Nabi Daud as.

Dan Jawaban Allah atas Doa NABI SULAIMAN yang diabadikan dalam QS. Al-Anbiya 21:79 ini rupanya memiliki redaksi yang sama di dalam Al-Kitab Perjanjian Lama (al-Ahd al-Qadim) sebagai berikut,

“Jadi berfirmanlah Allah kepadanya: “Oleh karena engkau telah meminta hal yang demikian dan tidak meminta UMUR PANJANG atau KEKAYAAN atau NYAWA MUSUHMU, melainkan KEPAHAMAN untuk memutuskan hukum. Maka sesungguhnya Aku melakukan sesuai dengan permintaanmu itu, sesungguhnya Aku memberikan kepadamu HATI PENUH HIKMAT dan KEPAHAMAN sehingga sebelum engkau tidak ada seorangpun seperti engkau, dan sesudah engkau takkan bangkit seorangpun seperti engkau. Dan juga apa yang tidak kauminta Aku berikan kepadamu, baik KEKAYAAN maupun KEMULIAAN sehingga sepanjang umurmu takkan ada seorangpun seperti engkau di antara raja-raja.” (Kitab 1 Raja-Raja 3:11-13)

Ibrah / Pelajaran yang dapat kita petik adalah:

👉 Mintalah HATI YANG PAHAM dalam doa-doamu maka niscaya Allah selain memberikan KEPAHAMAN juga akan memberikan bonus yang lainnya yakni: HIKMAH, ILMU, KEKAYAAN dan KEMULIAAN. Ibarat kita minta SATU HAL tapi diberikan LIMA HAL.

KEDUA:
Bilangan ’132’ juga merupakan Nilai Gematria dari rangkaian huruf ‘Alif – Sin – Lam – Alif – Mim’ yang akan dibaca sebagai ’ASLAM’ atau ‘ISLAM’ yang dalam Bahasa Arab berarti “Salama, Yuslimu, Taslima” yg seluruhnya mengandung makna “SELAMAT, DAMAI, dan SEJAHTERA”.

Dan inilah sebabnya mengapa Dalam Al-Kitab Perjanjian Lama (al-Ahd al-Qadim), NABI SULAIMAN disebut sebagai ’SHELOMOH’ (Shin-Lamed-Mem-Hey) yang maknanya adalah ’KEDAMAIAN’ atau ‘KESELAMATAN’.

Dan ini pula sebabnya mengapa RATU SABA yang bernama BULUKIS / BALQIS akhirnya Ber-ASLAM bersama NABI SULAIMAN.

قِيلَ لَهَا ادْخُلِي الصَّرْحَ ۖ فَلَمَّا رَأَتْهُ حَسِبَتْهُ لُجَّةً وَكَشَفَتْ عَنْ سَاقَيْهَا ۚ قَالَ إِنَّهُ صَرْحٌ مُمَرَّدٌ مِنْ قَوَارِيرَ ۗ قَالَتْ رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي وَأَسْلَمْتُ مَعَ سُلَيْمَانَ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Dikatakan kepadanya (Balqis), “Masuklah ke dalam istana.” Maka ketika dia (Balqis) melihat (lantai istana) itu, dikiranya kolam air yang besar, dan disingkapkannya (penutup) kedua betisnya. Dia (Sulaiman) berkata, “Sesungguhnya ini hanyalah lantai istana yang dilapisi kaca.” Dia (Balqis) berkata, “Ya Tuhanku, sungguh, aku telah berbuat zalim terhadap diriku. Aku ber-ASLAM bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan seluruh alam.”. (QS. An-Naml 27:44)

Dan Benang Merah dari KEDUA MAKNA Bilangan ’132’ yg merupakan Nilai Gematria dari kata ’WISNU’ atau ‘WAISNAWA’ yakni sebagai ‘QALBU’ (HATI) dan ‘ASLAM’ (DAMAI, SELAMAT, SEJAHTERA) ada dalam Kitab “Sulaiman ‘Alaihi Al-Salam Al-Nabiyyu Al-Maliku” karya Manshur Abdul Hakim yang menuliskan dialog antara NABI SULAIMAN dan Samg RATU SEMUT.

Ratu Semut berkata,
“Tahukah Paduka mengapa Paduka bernama SULAIMAN…?”

Nabi Sulaiman menjawab,
“Tidak”.

Ratu Semut berkata,
“Karena Paduka tidak tercemar dengan apa yang telah diberikan Allah kepada Paduka lantaran murninya QALBU (HATI) Paduka”.

Ratu Semut kemudian bertanya lagi,
”Apakah Paduka juga tahu mengapa Paduka bernama SHELOMOH …?”

Nabi Sulaiman menjawab,
“Tidak”.

Ratu Semut berkata,
”Karena selama Paduka menjadi RAJA, seluruh wilayah kekuasaan Paduka yang mencakup duapertiga wilayah Bumi diselimuti oleh KEDAMAIAN dan KESEJAHTERAAN”.

KESIMPULAN AKHIR:

👉 Ternyata Hikmah dibalik perbedaan nama NABI SULAIMAN as di dalam Al-Quran dan Al-Kitab adalah untuk memberikan kita pembelajaran tentang Makna dari Nilai Gematria nama ’WISNU’ atau ‘WAISNAWA’.

👉 Al-Quran menyebut NABI SULAIMAN as dengan nama ’SULAIMAN’ karena menurut Sang Ratu Semut bahwa NABI SULAIMAN as memiliki IMAN yang MURNI di dalam QALBU (HATI) meskipun Allah Swt telah menganugerahkan KEPAHAMAN, HIKMAH, ILMU, KEKAYAAN dan KEMULIAAN yang banyak kepada MABI SULAIMAN as.

Dari makna nama ini, akhirnya kita paham bahwa secara etimologi, nama ‘SULAIMAN’ berasal dari kata ’SU-LA-IMAN’.

SU = Sejati/Murni.
LA = Aturan/Hukum.
IMAN = Iman.

‘SU-LA-IMAN’ = Yang Memiliki IMAN dan Hukum yang Murni/Sejati.

👉 Al-Kitab Perjanjian Lama menyebut NABI SULAIMAN as dengan nama ‘SHELOMOH’ (Bahasa Ibrani) karena menurut Sang Ratu Semut bahwa selama NABI SULAIMAN as menjadi RAJA, wilayah kekuasaannya yang mencakup duapertiga bumi diselimuti oleh ’ASLAM’ yakni ‘KESELAMATAN, KEDAMAIAN dan KESEJAHTERAAN’.

👉 SULAIMAN berkaitan dengan ‘IMAN’ sedangkan SHELOMOH berkaitan dengan ASLAM atau ISLAM.

Sehingga dengan demikian nama ‘WISNU’ atau ’WAISNAWA’ yang dikenal dalam Agama HINDU ternyata memiliki pola pemaknaan gematria dengan nama ‘SULAIMAN’ yang dikenal dalam Agama ISLAM dan juga nama ‘SHELOMOH’ yang dikenal dalam Agama YAHUDI dan Agama NASRANI dan ketiga nama tersebut merujuk kepada sosok yang sama yakni NABI SULAIMAN bin DAUD as.

Demikian penjelasan singkat saya mengenai Rahasia Nama WISNU atau WAISNAWA dari sudut pandang etno-linguistik.

Dan sekali lagi saya tegaskan bahwa ini hanyalah sebatas “HIPOTESIS” yang saya sampaikan ke ruang terbuka publik yang saya peroleh lewat kajian berbasis “etno-linguistik” dan “ilmu gematria”. Hipotesis saya ini bisa benar dan bisa juga salah. Karena saya juga hanyalah manusia biasa. Semoga ijtihad pemikiran saya ini bisa menjadi awal kajian dan bahan diskusi lanjutan yang membangkitkan nalar dan logika berpikir yang lebih kritis dan mendalam guna mengungkap fakta kebenaran yang sesungguhnya.
Mohon Maaf jika ada kata-kata saya yang tidak berkenan, dan sampai jumpa lagi di kajian-kajian saya berikutnya.

Catatan Khusus:
Diizinkan untuk SHARE sebanyak-banyaknya guna mendatangkan manfaat yang sebesar-besarnya namun dengan tetap menyebutkan sumber aslinya baik berupa nama ataupun link.

Semoga Bermanfaat
🙏🙏🙏

Salam Rahayu,

Yeddi Aprian Syakh al-Athas
👉 Admin Group “The Lost History of Nuhsantara”
👉 Admin Group “Nuhsantara History Discovery”
👉 Admin Group “Imperium Sulaiman (Atlantis Nusantara)”

Comments

comments

Close