Peradaban Suku Dogon

Bumi dan peradabannya yang sudah semakin tua ternyata masih menyimpan sebongkah pengetahuan tentang kehidupan masa lampau. Sisa-sisa kehidupan masa lampau kadang masih bisa dinikmati sebagai situs purbakala yang tersebar diseluruh pelosok dunia. Di Indonesia sendiri, berbagai peninggalan zaman purbakala masih bisa dinikmati, dilihat, dan dipelajari di seluruh penjuru Negeri. Mulai yang masih ada di tempat aslinya, atau juga yang sudah dipindahkan ke museum purbakala. Salah satu yang masih menyimpan berbagai macam pengetahuan dari masa lampau atau masa purbakala adalah Dogon. Walaupun tidak terletak di Indonesia, Dogon sangat menarik untuk dipelajari dan diketahui oleh seluruh penduduk Dunia.

Dogon adalah nama tempat sekaligus nama suku yang dulu hidup di jaman purbakala. Suku ini menempati daerah Plato, bagian selatan Sungai Niger. Situs yang sudah ada sejak jaman dulu ini ternyata masih ditinggali oleh para penduduk sukunya. Saat ini, suku Dogon memiliki penduduk sekitar 800 ribu jiwa. Kekhasan yang ada di masyarakat suku Dogon adalah mitologi, kebudayaan, dan arsitektur pemukimannya. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, Suku Dogon sering menjadi objek penelitian antropologi oleh para ilmuwan dari berbagai belahan Dunia. Saat ini, Suku Dogon mengalami perubahan kemasyarakatan yang cukup berarti, mulai dari cara hidup, kebudayaan, sampai dengan kepercayaan masyarakatnya.

Di selatan Gurun Sahara (Mali, Afrkia), ternyata mereka hidup dengan sangat tertutup dan tinggal di gua atau lereng bukit pertanian, serta di dataran tinggi berbatu. Mereka juga disebutkan tinggal di Pegunungan Homburi dekat Timbuktu. Waktu itu, suku ini benar-benar terisolasi dari dunia luar. Sekalinya keluar, suku yang disebut-sebut merupakan keturunan Mesir ini menggemparkan dunia Astronomi. Mereka membawa pengetahuan Astronomi yang begitu menakjubkan. Dalam sejarah, tercatat beberapa ilmuwan yang datang ke Suku Dogon mengungkap fakta tentang mereka dan pengetahuan Astronomi yang dihasilkan, salah satunya adalah antropolog Perancis, Drs Marcel Griaule dan Germaine Dieterlen pada tahun 1950an.

Ilmu pengetahuan dalam bidang Astronomi menjadi buah dari penemun Suku Dogon. Antropolog mendokumentasikan mitologi dan kepercayaan tradisional Dogon, termasuk pengetahuan kuno tentang Sirius, Bintang Anjing. Menurut petuah para imam terdahulu mengatakan mitos rahasia Dogon tentang bintang Sirius yang berjarak 8,6 tahun cahaya dari Bumi. Para imam mengatakan bahwa Sirius juga memiliki bintang pendamping yang tak terlihat oleh mata manusia, bintang bergerak dalam 50 tahun orbit elips di sekitar Sirius, kecil dan sangat berat serta berputar pada porosnya.

Dalam penelitian para ilmuwan di daerah peradaban suku Dogon, mereka banyak menemukan artefak suku Dogon yang bergambar menyerupai bintang. Pengetahuan kuno suku Dogon tentang bintang Sirius B juga meliputi mitologi cincin Saturnus dan empat bulan utama planet Jupiter. Mereka memiliki empat kalender, perhitungan Matahari, Bulan, Sirius, Venus, dan sejak dahulu mereka sudah mengetahui bahwa planet-planet mengorbit matahari. Suku Dogon mengatakan bahwa pengetahuan astronomi diberikan kepada mereka oleh Nommos, makhluk amfibi yang dikirim ke Bumi dari Sirius untuk kepentingan umat manusia. Asal nama Dogon diartikan ‘untuk membuat satu minuman’ dan Nommos disebut ‘Guru’.

Suku Dogon mengenal Dewa Nosmos yang menjadi Guru dalam kehidupan mereka. Orang-orang suku Dogon menceritakan legenda Nommos sebagai sebuah makhluk mengerikan yang muncul tiba-tiba bersamaan dengan api dan guntur. Setelah tiba, Nommos membuat aliran air ke bumi kemudian terjun kedalamnya. Seperti informasi dan ilmu yang muncul dari jaman purbakala, ada beberapa referensi dalam tradisi lisan, tablet peninggalan suku Dogon terdahulu menggambarkan makhluk manusia yang memiliki kaki tetapi berkulit ikan. Nommos lebih mirip ikan daripada manusia dan hidup di air, dianggap penyelamat dan wali spiritual.

Kejanggalan dari Dewa Nommos, Dewa Suku Dogon ini begitu misterius. Namun inilah yang membuat sebuah peradaban masa lalu menjadi dihargai di masa kini, karena memuat berbagai ilmu yang sebenarnya tidak masuk akal. Dipercaya, Dewa Nommos membagi tubuhnya di antara manusia untuk memberi makan mereka, itulah sebabnya dia juga mengatakan bahwa dirinya bagian dari alam semesta. Nommos disalibkan dan dibangkitkan, dimasa depan dia akan kembali mengunjungi Bumi dalam bentuk ras manusia lain. Kemudian Nommos akan berubah menjadi bentuk amfibi dan akan memerintah dunia dari kerajaan air. Mitologi Dogon hanya diketahui oleh beberapa imam dan merupakan sistem yang kompleks pengetahuan, rahasia ini dijaga ketat dan tidak akan diungkapkan kepada orang asing. Jika bintang Emme Ya akhirnya ditemukan dalam sistem Sirius, maka mitologi Dogon akan memberi dampak berbeda masa mendatang.

siriusFakta mencengangkan lain yang didapat dari mitologi Dogon tentang Nommos adalah tentang kehidupannya. Nommos bisa hidup didarat, tetapi sebagian besar berdiam di laut, seperti Duyung. Makhluk serupa telah tercatat dalam mitologi peradaban kuno lainnya seperti Sumeria (Enki), Babilonia (Oannes), Acadia (Ea), dan Mesir (Isis). Dogon mengklaim bahwa bintang ketiga (Emme Ya) ada dalam sistem Sirius, yang lebih besar dan lebih ringan dari Sirius B, bintang ini berada di Sirius juga dan mengorbit planet tempat asal Nommos.

Suku Dogon dipercaya memiliki pengetahuan yang sangat tinggi dalam hal Astronomi. Menurut pengetahuan suku Dogon, mereka selalu tahu kalau Bumi berputar mengelilingi matahari, namun itu hanyalah permulaan dari pemahaman akan kosmologi mereka. Selain itu, ternyata pengetahuan akan berbagai bintang yang pada akhirnya juga diketahui oleh masyarakat modern sudah terlebih dahulu diprediksi dan diketahui oleh para masyarakat Suku Dogon. Pengetahuan mereka melingkupi kosmologi rumit, namun tak hanya bersifat religius. Dalam hal kebudayaan dan tradisi yang menyangkut kehidupan Suku Dogon, mereka memiliki tradisi yang didasari oleh kepercayaan mereka tentang topeng dan ukiran kayu. Bahkan, karya seni yang mereka buat punya andil besar di seni modern, salah satunya adalah karya-karya Picasso. Mereka bahkan memiliki lebih dari 80 jenis topeng yang dibedakan berdasarkan perayaan yang berlangsung dan kegunaan topeng tersebut.

Ada satu hal lagi yang unik, terlepas dari berbagai pengetahuan dan mitos yang banyak didalami oleh Suku Dogon, ternyata rutinitas untuk menangkap ikan menjadi satu hal yang menarik untuk dibicarakan dari suku ini. Biasanya, mereka menangkap ikan di Danau Suci Antogo. Agenda menangkap ikan ini hanya dilakukan setahun sekali. Pada hari yang sudah ditentukan, ribuan masyarakat Suku Dogon menguras ikan-ikan yang ada didalam danau tersebut dengan sangat cepat. Hebatnya, mereka hanya melakukannya dalam hitungan menit saja.

Dari banyak hal yang bisa dipelajari dari kehidupan dan pengetahuan yang dihasilkan oleh Suku Dogon, pengetahuan tentang kosmologi lah yang paling menggemparkan dunia. Mereka bahkan sudah bisa menceritakan bahwa permukaan bulan sangat kering dan tandus. Padahal jika dilogika, tidak ada seorangpun yang mencapai permukaan bulan waktu itu. Selain itu, yang cukup mencengangkan, Suku Dogon sudah bisa melihat dan menemukan Planet Saturnus sebagai planet yang bercincin, dan yang cukup mencengangkan juga adalah Jupiter yang memiliki empat bulan berukuran besar. Mereka juga sudah mengetahui semua tentang Galaksi Bimasakti, dan orbit serta kehidupan didalamnya.

Itulah berbagai macam fakta tentang Suku Dogon, dan peradabannya yang sampai sekarang ternyata pengetahuan yang mereka hasilkan bisa membuat logika dan pemikiran orang modern bisa tercengang.

Leave a Reply

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close